500 Ribu Genteng Plered Dikirim, UMKM Lokal Masuk Babak Baru Program Gentengisasi

IMG 20261003 WA0004

Dari sentra kerajinan tanah liat hingga pasar nasional, perajin Plered didorong naik kelas melalui standar mutu, sertifikasi, dan akses pembiayaan.

PURWAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Tumpukan genteng yang selama ini menjadi bagian dari wajah sentra kerajinan Plered, Purwakarta, Jumat (2/10/2026), berubah menjadi simbol geliat baru industri kecil daerah.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Sebanyak 500 ribu genteng produksi perajin lokal diberangkatkan menggunakan 125 truk. Pengiriman tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Program Gentengisasi Nasional yang digagas pemerintah dan diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan material bangunan, tetapi juga memperluas pasar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Momentum tersebut dihadiri Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, serta sejumlah pejabat lainnya.

Menteri PKP Maruarar Sirait menegaskan, program tersebut dirancang dengan misi yang lebih luas daripada sekadar memastikan ketersediaan genteng.

“Kita ingin memberdayakan UMKM, tapi kualitasnya di-upgrade dulu. Ada efek berantai yang diharapkan: UMKM tumbuh, kualitas meningkat, dan pasar terbuka lebar,” ujar Maruarar.

Plered selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan genteng dan keramik. Namun, keberadaan industri besar dan produk pabrikan membuat sebagian perajin lokal harus menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat.

Program Gentengisasi membuka peluang baru. Di sisi lain, peluang tersebut datang bersama tuntutan peningkatan kualitas.

Selama masa persiapan sekitar enam bulan, pemerintah menemukan masih banyak perajin yang produknya belum memenuhi standar mutu, termasuk belum memiliki sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Pemerintah Kabupaten Purwakarta dan Majalengka kemudian melakukan pendampingan untuk memperbaiki kualitas produksi sekaligus memastikan kapasitas perajin mampu memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar.

Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan pemerintah daerah telah melakukan pengecekan terhadap kesiapan produksi maupun pengiriman.

Pendampingan juga diarahkan untuk membangun ekosistem usaha yang mempertemukan produsen dengan kebutuhan pasar secara lebih langsung.

Penguatan industri genteng tidak hanya dilakukan di Plered.

Di Majalengka, pemerintah menyiapkan pengiriman 2,4 juta genteng menggunakan 600 truk pada 8 November 2026. Pengiriman tersebut melibatkan 45 perajin.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 34 perajin telah mengantongi SNI, sedangkan 11 perajin lainnya dinyatakan lolos uji keandalan.

Langkah berikutnya adalah memperkuat kapasitas perajin melalui akses pembiayaan. Pemerintah mendorong perajin memperoleh dukungan permodalan melalui perbankan, di antaranya BRI dan Bank Jabar.

Dengan demikian, lonjakan permintaan tidak hanya menghasilkan transaksi sesaat, tetapi diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi dan keberlanjutan usaha.

Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein mengatakan genteng hasil produksi perajin lokal tersebut akan digunakan untuk menggantikan atap asbes dalam program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).

Kebijakan itu sekaligus membawa aspek kesehatan bagi masyarakat penerima manfaat, karena rumah yang sebelumnya menggunakan atap asbes akan diganti dengan material genteng.

Sementara itu, Kepala UPTD Sentra Keramik Plered, Mumun Maemunah, mengungkapkan dari 78 perajin yang berada di sentra tersebut, baru sebagian yang terlibat dalam pengadaan.

Produk yang dikirim, kata dia, telah melalui pengujian dan dinyatakan lulus oleh Balai Besar Keramik.

Pengiriman 500 ribu genteng tersebut pada akhirnya bukan sekadar aktivitas distribusi material bangunan.

Di balik ratusan truk yang meninggalkan Plered, terdapat upaya mendorong industri kerajinan rakyat memasuki level baru: memproduksi dalam skala besar, memenuhi standar, memiliki akses pembiayaan, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Jika konsisten dikembangkan, Program Gentengisasi berpotensi menjadi pintu masuk bagi perajin lokal untuk tidak lagi sekadar menjadi pemasok pesanan pemerintah, tetapi tumbuh menjadi pelaku UMKM yang mandiri dan kompetitif.

Bagi Plered, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa sentra kerajinan yang telah hidup selama puluhan tahun masih memiliki ruang untuk bangkit—bukan hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga merebut peluang ekonomi baru. (Dapitt)