Hasil Ngonten, Dedi Mulyadi Beri Bonus Rp25 Juta ke Petugas Upacara Harkitnas

Barak militer
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (instagram)

Bandung, NyaringIndonesia.com – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali mencuri perhatian publik. Dalam momen peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2025, Dedi memberikan bonus sebesar Rp25 juta kepada setiap petugas upacara yang seluruhnya merupakan siswa binaan dari program pelatihan di barak militer.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Langkah ini dinilai tak biasa, bukan hanya karena nominal yang besar, tetapi juga karena latar belakang para petugas yang berasal dari lingkungan pendidikan khusus dengan pola kedisiplinan militer. Program ini menjadi bagian dari pendekatan Dedi dalam membentuk karakter generasi muda Jawa Barat.

“Bonus untuk petugas upacara Rp25 juta untuk dibawa pulang ke rumahnya masing-masing. Dapat uang, makannya enak, tidurnya nyenyak, berubah mental, bajunya bagus, pulang dapat bonus gratis,” ujar Dedi dalam pidatonya yang diunggah di akun Instagram resminya, @dedimulyadi71, pada Selasa (21/5/2025).

Dalam kesempatan itu, Dedi juga menanggapi berbagai komentar sinis soal sumber dana yang ia gunakan untuk memberikan bantuan sosial. Ia menegaskan bahwa seluruh bantuan tersebut berasal dari penghasilan pribadinya sebagai kreator konten di media sosial.

“Saya selalu ditanya, ‘Pak Dedi, duitnya dari mana?’ Saya jawab, lebih baik jadi gubernur konten yang punya duit diberikan ke rakyat, daripada gubernur tidur, gubernur protokoler, gubernur ingin dihargai, gubernur habiskan anggaran buat jalan-jalan ke luar negeri,” tegasnya.

Dengan lebih dari jutaan pengikut di berbagai platform digital, Dedi memang dikenal aktif membuat konten bertema kemanusiaan dan pemberdayaan rakyat kecil. Pendekatan ini sekaligus menjadi sumber pemasukan yang ia manfaatkan untuk kegiatan sosial.

Lebih lanjut, Dedi juga menyampaikan kritik tersirat terhadap gaya kepemimpinan yang dinilainya hanya berorientasi pada protokoler, fasilitas, dan simbolisme jabatan. Ia menyebut bahwa Indonesia memerlukan pemimpin yang tangguh secara mental dan berani menghadapi kritik.

“Kalau ingin melakukan perbaikan, kenapa harus kuat? Karena harus menghadapi kaum nyinyir. Biarkan mereka sakit hati selamanya,” ujarnya.

Pernyataan itu sekaligus menegaskan posisi Dedi sebagai pemimpin yang tidak anti-kritik, namun memilih menjawabnya lewat tindakan langsung dan pendekatan yang tak biasa. Fokusnya, kata dia, adalah kerja nyata dan keberpihakan pada rakyat, bukan sekadar pencitraan atau gaya hidup mewah pejabat.

 

 

==============

Disclaimer:

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News

Berita Utama