Mantan anggota DPR RI menilai target penguatan rupiah ke level Rp15.000 per dolar AS belum tercapai, sementara pemerintah terus menyiapkan berbagai langkah intervensi dan stimulus ekonomi untuk menjaga stabilitas pasar.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!JAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Mantan anggota DPR RI, Akbar Faizal, menilai kinerja Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum memenuhi harapan. Menurutnya, berbagai pernyataan dan komitmen yang pernah disampaikan hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang nyata.
Melalui unggahan di akun X pribadinya pada Minggu (7/6), Akbar meminta Purbaya segera melakukan langkah perbaikan agar kebijakan yang diambil pemerintah dapat memberikan dampak yang lebih efektif dan sesuai kebutuhan masyarakat.
“Anda kalah Mas Yudhi @PurbayaYudhi, Menteri @KemenkeuRI. Semua yang Anda ucapkan dan janjikan tak terbukti. Putuskan sesuatu yang layak bagi kami dan untuk diri Anda sendiri. @bank_indonesia @ojkindonesia @prabowo,” tulisnya.
Untuk itu, Ia juga meminta pemerintah mengambil keputusan yang lebih tepat demi kepentingan publik maupun kredibilitas pemangku kebijakan terkait.
Sebelumnya, saat menghadiri Jogja Financial Festival 2026 pada Jumat (22/5/2026), Purbaya menyatakan optimisme bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi menguat hingga mendekati level Rp15.000 per dolar.
Ia saat itu menjelaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap tekanan yang terjadi pada rupiah karena pada Juni 2026 diperkirakan akan masuk pasokan dolar dalam jumlah besar yang dapat membantu memperkuat mata uang domestik.
“Masyarakat gak usah takut kalo ada yang ribut-ribut rupiah akan jeblok seperti di 98, nati Juni akan ada suplai dolar yang signifikan ke ekonomi kita rupiah akan menguat sampai 15.000,” tandasnya.
Namun, berdasarkan perdagangan pada Minggu pagi (7/6/2026), kurs rupiah masih berada di rentang Rp18.030 hingga Rp18.095 per dolar AS, jauh dari target yang sebelumnya disampaikan.
Di sisi lain, setelah mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka pada Selasa (5/5/2026), Purbaya mengungkapkan bahwa pemerintah telah melakukan intervensi di pasar obligasi dengan mengalokasikan dana sebesar Rp8 triliun guna meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah stimulus ekonomi tambahan untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah kondisi pasar yang bergejolak.
“Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan bonds, termasuk Panda Bonds di China dengan bunga lebih rendah sehingga kita tidak terlalu bergantung pada dolar. Diversifikasi akan lebih baik ke depan,” jelas Purbaya.

