Bedah Buku Babad Alas, Bima Arya Beberkan Kunci Kepemimpinan yang Berhasil

Bima Arya 1 scaled
Bima Arya dalam Seminar dan Bedah Buku Babad Alas yang digelar di Universitas Paramadina Kampus Cipayung, Kamis (11/6).

JAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, menegaskan bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis maupun kecakapan politik. Menurutnya, kepemimpinan yang kuat harus berlandaskan ideologi, nilai, dan keberpihakan yang menjadi pedoman dalam setiap pengambilan keputusan.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Pesan tersebut disampaikan Bima Arya dalam Seminar dan Bedah Buku Babad Alas yang digelar di Universitas Paramadina Kampus Cipayung, Kamis (11/6). Kegiatan ini dihadiri pimpinan universitas, dosen, mahasiswa, serta berbagai kalangan yang antusias mengikuti refleksi kepemimpinan yang dibagikan mantan Wali Kota Bogor dua periode tersebut.

Dalam paparannya, Bima menceritakan perjalanan hidupnya, mulai dari menjadi dosen di Universitas Paramadina, berkarier sebagai konsultan dan pengamat politik, hingga memutuskan terjun langsung ke dunia politik dengan maju sebagai Wali Kota Bogor.

Keputusan itu, kata Bima, berangkat dari kegelisahan pribadi tentang makna kebermanfaatan hidup di tengah kenyamanan profesi yang telah ia jalani.

“Karena saya ingat nasihat bapak saya, Khoirunnas anfa’uhum linnas, menjadi manusia itu harus berarti. Dan saya merasa, kalau hanya berbicara di kampus atau seminar, apa yang bisa saya lakukan untuk kota saya tercinta?” ungkapnya.

Bima mengakui meninggalkan profesi sebagai dosen dan konsultan politik bukanlah keputusan mudah. Namun, menurutnya, kepemimpinan selalu menuntut keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

“Life begins at the end of comfort zone. Karena sudah nyaman sekali menjadi pengamat politik. Tapi kalau hanya nyaman, lalu untuk apa?” katanya.

Menurut Bima, tantangan terbesar justru muncul setelah dirinya memenangkan Pilkada Kota Bogor. Memimpin birokrasi dan menghadapi beragam kepentingan yang saling bertabrakan jauh lebih sulit dibandingkan memenangkan kontestasi politik.

Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa seorang pemimpin tidak bisa menyelesaikan semua persoalan dengan pendekatan konfrontatif. Ia mengibaratkannya dengan filosofi “babad alas” dalam kisah pewayangan, di mana pemimpin harus mampu menentukan strategi terbaik tanpa menciptakan terlalu banyak permusuhan.

Dalam menghadapi berbagai dilema tersebut, Bima menilai ideologi dan nilai menjadi fondasi utama yang harus dimiliki setiap pemimpin.

“Mengatasi dilema pilihan yang sulit itu hanya akan bisa ditolong dan dikuatkan oleh ideologi, nilai, atau keberpihakan,” tegasnya.

Ia mencontohkan sejumlah kebijakan yang diambil saat memimpin Kota Bogor, mulai dari pemberantasan praktik perizinan yang mengatasnamakan wali kota, keberpihakan terhadap penggunaan produk lokal oleh aparatur sipil negara, hingga penyelesaian persoalan sosial dan keberagaman melalui dialog yang panjang.

Bima juga mengungkapkan bahwa nilai-nilai kepemimpinannya dibentuk oleh keluarga, pengalaman akademik, serta tradisi intelektual yang diwariskan almarhum Nurcholish Madjid.

“Yang membantu menuntun saya menyelesaikan berbagai persoalan di Kota Bogor adalah ideologi. Ideologi atau nilai itu datang dari proses yang panjang,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa pembangunan tidak semata-mata berbicara tentang proyek fisik, tetapi juga tentang kemampuan pemerintah menjaga optimisme masyarakat terhadap masa depan daerahnya.

“Leaders are dealers of hope,” kata Bima.

Menurutnya, berbagai program penataan ruang publik, pembangunan pedestrian, revitalisasi kawasan kota, hingga keberhasilan meraih kembali penghargaan Adipura merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam “mencicil harapan” masyarakat Kota Bogor.

Dalam kesempatan tersebut, Bima juga menyoroti pentingnya kedekatan pemimpin dengan masyarakat.

“Datanglah di kala suka dan duka kepada warga, maka kalian akan dikenang seumur hidup,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya bekerja dan menghasilkan program. Pemimpin juga harus mampu membangun serta merawat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kelompok akar rumput, komunitas, akademisi, hingga kalangan elite pemerintahan.

Menurut Bima, kepemimpinan yang berlandaskan nilai, mampu menumbuhkan harapan, dan dekat dengan masyarakat merupakan kunci untuk menghadirkan perubahan yang berkelanjutan.

 

======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News