Bitcoin Depot Bangkrut, Ribuan ATM Kripto Dunia Dimatikan Massal

1779409315144

Ribuan kios ATM Bitcoin yang biasa ditemukan di pusat perbelanjaan, pom bensin, hingga area hiburan malam mulai dihentikan secara bertahap. (foto, Jhon Paui/Unsplash/Modified by CoinDesk)

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

JAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Industri kripto global kembali diguncang isu tak sedap. Salah satu operator ATM Bitcoin terbesar di dunia, Bitcoin Depot, resmi mengajukan kebangkrutan setelah dihantam tekanan regulasi dan kerugian finansial yang terus memburuk.

Perusahaan yang tercatat di bursa saham Nasdaq itu kini menghentikan ribuan mesin ATM kripto miliknya yang tersebar di berbagai wilayah Amerika Utara. Penutupan tersebut menjadi salah satu krisis terbesar yang pernah melanda sektor infrastruktur fisik aset digital.

Langkah hukum itu ditempuh melalui pengajuan perlindungan kebangkrutan Bab 11 atau Chapter 11 di Pengadilan Kepailitan Amerika Serikat untuk Distrik Selatan Texas.

Akibat keputusan tersebut, operasional ribuan kios ATM Bitcoin yang biasa ditemukan di pusat perbelanjaan, pom bensin, hingga area hiburan malam mulai dihentikan secara bertahap.

Bloomberg melansir, masalah keuangan disebut menjadi pemicu utama keruntuhan perusahaan. Sepanjang kuartal pertama tahun ini, pendapatan Bitcoin Depot dilaporkan merosot hampir 50 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Perusahaan juga mencatat kerugian bersih sekitar 9,5 juta dolar AS atau setara lebih dari Rp150 miliar. Padahal pada tahun sebelumnya, mereka masih mampu membukukan keuntungan jutaan dolar.

Tekanan terbesar datang dari perubahan regulasi di sejumlah negara bagian Amerika Serikat yang mulai memperketat pengawasan terhadap ATM kripto.

Pemerintah setempat menilai mesin penukaran uang tunai ke aset digital berpotensi dimanfaatkan untuk aktivitas kriminal, termasuk pencucian uang dan penipuan lintas negara.

CEO Bitcoin Depot, Alex Holmes, mengakui aturan baru membuat model bisnis perusahaan menjadi semakin sulit dipertahankan.

Beberapa wilayah bahkan mulai membatasi nominal transaksi harian, menaikkan biaya kepatuhan, hingga melarang operasional ATM kripto sepenuhnya.

Sebelum kolaps, Bitcoin Depot diketahui mengoperasikan sekitar 9.700 mesin ATM kripto di kawasan Amerika Utara.

Selain dihantam regulasi, perusahaan juga terseret berbagai persoalan hukum dan keamanan digital.

Mesin ATM kripto milik mereka disebut kerap dimanfaatkan sindikat penipuan untuk memindahkan dana korban secara cepat ke aset digital yang sulit dilacak.

Laporan pengaduan ke FBI menyebut kerugian masyarakat akibat penipuan berbasis ATM kripto mencapai sekitar 389 juta dolar AS atau setara Rp6,2 triliun dalam satu tahun terakhir.

Tekanan hukum semakin berat setelah jaksa di Massachusetts dan Iowa menggugat perusahaan atas dugaan lemahnya sistem perlindungan konsumen dan keamanan transaksi.

Situasi makin memburuk ketika sistem internal perusahaan diretas pada April lalu. Dalam insiden tersebut, peretas berhasil menguras aset digital senilai sekitar 3,6 juta dolar AS dari dompet kripto perusahaan.

Kini, proses likuidasi aset mulai dilakukan. Operasional anak perusahaan di Kanada dan sejumlah wilayah non-Amerika Serikat juga dipastikan ikut ditutup bertahap.

Manajemen perusahaan menyerahkan sisa aset kepada kurator untuk dijual guna menyelesaikan kewajiban pembayaran kepada para kreditur.

Kebangkrutan Bitcoin Depot menjadi sinyal keras bahwa industri ATM kripto global tengah menghadapi fase paling berat sejak lonjakan popularitas aset digital beberapa tahun terakhir.

======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News