Kemenangan yang diraih Danish di Brno tidak boleh menjadi patokan bahwa hasil serupa akan selalu datang di setiap seri.
ASSEN, NYARINGINDONESIA.COM – Kepercayaan diri terhadap performa Hakim Danish memang sedang meningkat setelah kemenangan sensasional di Moto3 Ceko. Namun, di balik euforia tersebut, manajemen MT Helmets-MSi memilih bersikap realistis menjelang Moto3 Belanda 2026.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Manajer tim, Zulfahmi Khairuddin, menegaskan bahwa tugas utamanya kini bukan hanya mengembangkan kemampuan pembalap muda Malaysia itu, tetapi juga mengelola ekspektasi agar tidak membebani sang rookie.
Menurut Zulfahmi, kemenangan yang diraih Danish di Brno tidak boleh menjadi patokan bahwa hasil serupa akan selalu datang di setiap seri.
“Kini, peran saya bersama tim manajemen adalah mengelola ekspektasi dengan lebih efektif,” ujar Zulfahmi, melalui siaran ZKRacing
“Saya tahu Danish sudah pernah memenangkan balapan, tetapi di saat yang sama kami harus bersabar jika pada beberapa balapan berikutnya dia belum mampu meraih hasil maksimal.”
Zulfahmi mengakui seri Belanda akan menjadi tantangan tersendiri bagi pembalap berusia 18 tahun tersebut. Karakter Sirkuit Assen yang sempit dan penuh tikungan dinilai kurang sesuai dengan gaya balap Danish yang lebih nyaman di lintasan dengan ruang manuver lebih lebar.
“Balapan di Assen menghadirkan tantangan baru. Danish memang pernah membalap di sirkuit ini, tetapi karakter lintasannya sempit dan sangat teknis,” katanya.
“Itu mungkin tidak sepenuhnya cocok dengan gaya membalapnya.”
Selain karakter sirkuit, faktor cuaca juga menjadi perhatian utama. Zulfahmi berharap Assen menyuguhkan kondisi kering agar Danish bisa memaksimalkan seluruh sesi sejak latihan bebas hingga balapan utama.
“Saya berharap cuaca di Assen tetap bersahabat dan tidak turun hujan sehingga Danish dapat menjalani seluruh sesi latihan maupun balapan dengan lancar,” ujarnya.
Mantan pembalap Grand Prix itu juga menekankan bahwa dirinya kini memiliki target yang lebih realistis untuk anak didiknya. Menurutnya, finis di luar podium bukan berarti sebuah kegagalan mengingat Danish masih menjalani musim debut di Kejuaraan Dunia Moto3.
“Mulai sekarang saya juga perlu mengelola ekspektasi secara lebih realistis,” kata Zulfahmi.
“Kalaupun Danish tidak naik podium atau tidak finis di lima besar, itu tetap bisa dianggap sebagai hasil yang baik karena dia masih seorang rookie yang sedang belajar dan mengumpulkan pengalaman.”
Kekhawatiran Zulfahmi terhadap karakter Assen mulai terlihat pada sesi Free Practice 1 (FP1) yang berlangsung Jumat pagi. Danish menutup latihan pembuka di posisi ke-11 setelah mencatatkan waktu terbaik 1 menit 41,449 detik.
Catatan tersebut masih terpaut 0,580 detik dari pembalap tercepat, Alvaro Carpe dari Red Bull KTM Ajo, yang langsung menunjukkan kecepatannya sejak awal akhir pekan.
Meski belum menembus 10 besar, performa Danish masih lebih baik dibandingkan pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama.
Rider Honda Team Asia itu mengakhiri FP1 di posisi ke-20 dengan catatan waktu terbaik 1 menit 41,970 detik dan masih berupaya menemukan setelan motor terbaik untuk menghadapi rangkaian Moto3 Belanda.
Kini, perhatian tertuju pada sesi-sesi berikutnya. Mampukah Hakim Danish membungkam keraguan soal karakter Assen, atau justru Alvaro Carpe kembali menunjukkan dominasinya di lintasan legendaris Belanda tersebut?
======================
Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.
Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News

