Kolaborasi Universitas Paramadina, KAS, Disdikpora DIY, dan Kemendagri RI membekali guru perempuan dengan kemampuan kepemimpinan, demokrasi, dan pengambilan keputusan untuk memperluas peran mereka di dunia pendidikan.
YOGYAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Upaya memperkuat peran perempuan dalam dunia pendidikan terus dilakukan melalui peningkatan kapasitas kepemimpinan. Sebanyak 30 guru perempuan dari SMA dan SMK negeri maupun swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengikuti Pelatihan Kepemimpinan untuk Guru Perempuan yang berlangsung pada 4–6 Agustus 2026 di Hotel Oakwood, Yogyakarta.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara PIER Universitas Paramadina, Konrad Adenauer Stiftung (KAS), Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, serta berada di bawah naungan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas kepemimpinan perempuan sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak pemimpin perempuan di sektor pendidikan.
Pelatihan dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Pembinaan SMK Disdikpora DIY, Dr. Wiwik Indriyani, S.Pd., M.Si. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan menegaskan bahwa penguatan kompetensi kepemimpinan bagi guru perempuan menjadi salah satu fokus penting dalam pengembangan sumber daya manusia di lingkungan pendidikan.
Menurut Wiwik, perempuan yang berprofesi sebagai guru kerap memikul tanggung jawab ganda, yakni sebagai tenaga pendidik di sekolah sekaligus sebagai ibu dan pengelola keluarga di rumah. Kondisi itu menuntut kemampuan memimpin, mengatur prioritas, serta mengambil keputusan secara tepat.
“Kaum perempuan memiliki peran ganda, sebagai profesional di sekolah dan sebagai ibu di rumah. Karena itu, perempuan harus memiliki kapasitas, trik, dan tips kepemimpinan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun karakter pemimpin yang tegas dan berani mengambil keputusan. Dalam situasi tertentu, menurutnya, perempuan perlu memiliki ketegasan yang identik dengan gaya kepemimpinan maskulin tanpa harus meninggalkan karakter dan keunggulan yang dimiliki sebagai perempuan.
Direktur Eksekutif PIER Universitas Paramadina, Djayadi Hanan, Ph.D., menjelaskan bahwa pelatihan ini dilatarbelakangi masih minimnya representasi perempuan dalam jabatan-jabatan strategis di dunia pendidikan.
Padahal, kata dia, mayoritas tenaga pendidik di Indonesia merupakan perempuan. Namun, posisi seperti kepala sekolah maupun pimpinan dinas pendidikan di berbagai daerah masih lebih banyak diisi laki-laki. Fenomena serupa juga terlihat dalam kepemimpinan politik dan pemerintahan daerah.
Menurut Djayadi, peningkatan kapasitas kepemimpinan menjadi salah satu langkah penting untuk membuka peluang lebih besar bagi perempuan agar mampu berkiprah dalam posisi pengambil keputusan.
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Konrad Adenauer Stiftung (KAS), Cynthia Tri Putri, memperkenalkan lembaga yang berbasis di Jerman tersebut. Ia menjelaskan bahwa KAS merupakan yayasan politik yang memiliki komitmen terhadap penguatan demokrasi, pendidikan politik, dan pengembangan kepemimpinan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Selama tiga hari pelatihan, para peserta memperoleh berbagai materi mengenai demokrasi, kepemimpinan perempuan, komunikasi, hingga penguatan kapasitas dalam pengambilan keputusan.
Sejumlah narasumber dihadirkan dalam kegiatan tersebut, antara lain akademisi FISIP Universitas Gadjah Mada Prof. Amalinda Savirani, pakar kepemiluan dari Perludem Dr. Titi Anggraini, S.H., M.H., serta Kasubdit di Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri RI, Danang Binuko, S.E., M.AP.
Selain itu, tim PIER Universitas Paramadina yang terdiri atas Djayadi Hanan, Ph.D., Dr. Tatok Djoko Sudiarto, MIB, Dr. Mohammad Abduhzen, M.Hum., Umar Abdullah, Ph.D., Muhammad Hilal Tri Anwari, serta Achmad Firas Khudi, S.E., M.E., M.A., turut memberikan materi melalui pendekatan yang bersifat substantif, interaktif, dan aplikatif.
Melalui pelatihan tersebut, peserta diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri untuk mengambil peran kepemimpinan yang lebih luas, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat.
Penyelenggara menilai penguatan kepemimpinan perempuan di sektor pendidikan memiliki arti strategis karena sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai demokrasi, kesetaraan, partisipasi, serta membentuk karakter generasi masa depan.
Dengan semakin banyak perempuan yang tampil sebagai pemimpin di dunia pendidikan, diharapkan lahir ekosistem sekolah yang lebih inklusif, adaptif, dan mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.
======================
Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.
Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News

