Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
Cimahi, NyaringIndonesia.com – Peneliti di China tengah mengembangkan metode baru untuk melumpuhkan jaringan internet berbasis satelit konstelasi seperti Starlink sebagai langkah antisipasi jika terjadi konflik di masa depan.
Menurut studi terbaru, China diperkirakan membutuhkan ribuan drone untuk melakukan jamming atau pengacauan sinyal di wilayah seluas Taiwan.
Melansir Dark Reading, Kamis (11/12/2025), temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Systems Engineering and Electronics. Dalam makalah itu, peneliti dari dua universitas besar di China menyebutkan bahwa jaringan satelit konstelasi memang dapat diganggu, tetapi biayanya sangat besar.
Simulasi menunjukkan bahwa diperlukan 1.000 hingga 2.000 drone yang membawa perangkat jammer untuk memutus sinyal Starlink di wilayah seluas Taiwan secara efektif.
Peran penting satelit dalam perang Rusia–Ukraina disebut menjadi salah satu alasan meningkatnya minat terhadap penelitian ini. Satelit terbukti menjadi sumber utama konektivitas bagi militer Ukraina, sehingga menjadi target serangan elektronik maupun siber. Gangguan pada sistem navigasi satelit (GNSS) dan upaya peretasan terhadap kendali satelit semakin sering terjadi di zona konflik.
Clayton Swope, Wakil Direktur Proyek Keamanan Dirgantara di CSIS, menjelaskan bahwa serangan siber dan perang elektronik kini lebih disukai dibandingkan serangan fisik terhadap satelit. Alasannya, risiko kerusakan tambahan lebih kecil dan tidak mudah memicu eskalasi konflik.
“Serangan fisik masih mengkhawatirkan, tetapi sulit dibayangkan terjadi dalam masa damai atau ketegangan tinggi, karena dapat memicu perang terbuka,” ujar Swope.
Ia menambahkan bahwa jamming dan serangan siber kerap digunakan sebagai taktik “zona abu-abu” yang tidak langsung memicu eskalasi.
Meski menjadi sasaran riset, konstelasi satelit seperti Starlink sangat sulit dilumpuhkan sepenuhnya. Banyaknya satelit, pergerakan cepat, dan sistem koreksi sinyal membuat gangguan menyeluruh nyaris mustahil. Starlink sendiri kini memiliki sekitar 9.000 satelit di orbit rendah Bumi.
Taiwan pun sudah menyiapkan langkah antisipasi dengan menggandeng Eutelsat OneWeb konstelasi satelit berisi lebih dari 600 satelit—untuk memastikan konektivitas tetap berjalan jika terjadi bencana atau perang.
Sam Wilson, Direktur Strategi dan Keamanan Nasional di The Aerospace Corp, menambahkan bahwa meningkatnya penggunaan konstelasi besar membuat senjata anti-satelit tradisional semakin tidak efektif.
“Menghancurkan satu satelit memang berdampak, tetapi tidak melumpuhkan seluruh jaringan. Karena itu, pihak lawan kini lebih mempertimbangkan jalur ancaman seperti serangan siber dan perang elektronik,” jelasnya.