Cina Desak Penghentian Operasi Militer, Soroti Keamanan Selat Hormuz

Selat

Iran, NyaringIndonesia.com – Pemerintah Cina menyatakan dukungan terhadap upaya semua pihak untuk memastikan keselamatan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Pernyataan itu disampaikan setelah jalur strategis tersebut ditutup menyusul pecahnya perang antara Iran dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2).

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Mengutip laporan Bloomberg, Cina merupakan importir minyak dan gas terbesar di dunia. Hampir separuh impor minyak mentah Negeri Panda pada akhir tahun lalu melewati Selat Hormuz, sehingga gangguan di jalur ini berdampak langsung pada ketahanan energinya.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Mao Ning, mengatakan Beijing mendorong semua pihak untuk menahan diri.

“Cina mendorong semua pihak untuk segera menghentikan operasi militer, menghindari peningkatan tensi, dan menjaga keamanan navigasi di Selat Hormuz,” ujarnya, Rabu (4/2).

Bloomberg juga melaporkan empat kapal komersial yang membawa gas cair ke Cina mengalami kerusakan akibat konflik Iran-AS. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran di kalangan perusahaan energi domestik.

Perusahaan gas di Cina dilaporkan mengusulkan agar pemerintah menghindari langkah yang berpotensi mengganggu ekspor gas cair, terutama dari fasilitas di Qatar. Negara Teluk tersebut memasok hingga 30% kebutuhan total gas cair Cina, termasuk untuk keperluan industri.

Mao Ning menyatakan Cina memahami kepentingan keamanan nasional Iran, namun menegaskan bahwa stabilitas kawasan harus tetap dijaga.

“Cina sangat memberikan perhatian pada konflik yang kini menyebar,” katanya.

Penutupan Selat Hormuz dilakukan oleh Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di tengah memanasnya situasi Timur Tengah. Selat tersebut merupakan jalur vital perdagangan minyak global di selatan Iran.

Analis energi di Barclays, Inggris, memproyeksikan harga minyak Brent berpotensi menembus US$100 per barel jika konflik terus bereskalasi. Sebagai perbandingan, harga spot minyak Brent pada perdagangan Jumat (27/2) ditutup di level US$73 per barel.

Mengutip laporan Reuters, analis Barclays menyatakan pasar minyak kemungkinan akan menghadapi tekanan besar ketika perdagangan dibuka kembali.

“Pasar perdagangan minyak mungkin akan menghadapi ketakutan terbesarnya pada Senin,” ujarnya.

Eskalasi konflik di sekitar Selat Hormuz tidak hanya berimplikasi pada stabilitas geopolitik, tetapi juga berpotensi mengguncang pasar energi global dalam jangka pendek.

 

=======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News