Cosplay dan Badut Bergeser Menjadi Realitas Jalanan

1786884335748

COSPLAY, BADUT, MANUSIA SILVER

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

CIBINONG, NyaringIndonesia.com – Cosplay, badut, hingga manusia silver pada mulanya hadir sebagai bagian dari hiburan dan industri kreatif. Mereka menawarkan tontonan unik, menghadirkan karakter yang dikenal masyarakat, serta menciptakan ruang hiburan di tengah berbagai kegiatan publik.

Cosplay, misalnya, berkembang dari budaya mengenakan kostum menyerupai karakter anime, film, gim, maupun tokoh populer. Kehadirannya kerap menjadi daya tarik dalam pameran, festival, dan berbagai acara komunitas.

Begitu pula dengan badut. Kostum warna-warni dan tingkah jenaka menjadi identitas utama untuk menghibur masyarakat. Sementara manusia silver dikenal melalui aksi living statue, yakni pertunjukan dengan mengecat tubuh menggunakan warna metalik sehingga seseorang tampak seperti patung yang tiba-tiba bergerak.

Namun, wajah ketiganya kini mulai mengalami perubahan.

Di berbagai ruas jalan, persimpangan, kawasan permukiman, hingga titik lampu lalu lintas, sosok berkostum tersebut semakin mudah ditemui. Aktivitas yang semula identik dengan hiburan perlahan bergeser menjadi cara untuk memperoleh penghasilan dengan mengandalkan pemberian dari pengguna jalan maupun warga.

Fenomena ini tentu tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi. Di balik kostum dan aksi mereka, terdapat persoalan ekonomi yang tidak sederhana. Keterbatasan lapangan pekerjaan dan tekanan kebutuhan hidup dapat menjadi alasan seseorang memilih turun ke jalan untuk mendapatkan penghasilan.

Memberikan bantuan kepada mereka pun pada dasarnya merupakan pilihan masing-masing. Persoalan muncul ketika aktivitas tersebut berubah menjadi tindakan yang mengganggu kenyamanan atau bahkan membuat masyarakat merasa tertekan.

Dalam sejumlah situasi, permintaan pemberian tidak lagi sekadar bersifat sukarela. Gestur tertentu, tatapan, ucapan yang kurang pantas, hingga sikap yang dianggap memaksa dapat menimbulkan keresahan, terutama bagi pengguna jalan yang sedang berhenti di persimpangan.

Di titik inilah pemerintah semestinya hadir.

Fenomena manusia berkostum yang mencari penghasilan di jalan tidak cukup diselesaikan hanya dengan penertiban. Jika akar persoalannya adalah kemiskinan dan keterbatasan kesempatan kerja, maka solusi yang dibutuhkan juga harus menyentuh persoalan tersebut.

Pemerintah perlu memastikan keberadaan program pemberdayaan ekonomi, lapangan pekerjaan, pelatihan keterampilan, hingga perlindungan sosial benar-benar dapat dirasakan kelompok masyarakat yang berada di lapisan bawah.

Sebab, ketika ruang-ruang publik semakin dipenuhi aktivitas mencari belas kasihan, pertanyaannya bukan hanya siapa yang mengganggu kenyamanan masyarakat, tetapi juga mengapa semakin banyak orang merasa harus turun ke jalan untuk bertahan hidup?

Ironisnya, Indonesia akan memperingati 81 tahun kemerdekaan. Namun, di tengah perayaan kemerdekaan tersebut, persoalan kemiskinan, kesenjangan, dan korupsi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada seremoni, bendera, dan slogan. Kemerdekaan juga harus tercermin dari kemampuan negara menghadirkan kehidupan yang layak bagi masyarakatnya.

Ketika sebagian masyarakat berjuang mencari rupiah di persimpangan dengan mengenakan kostum, sementara praktik korupsi masih terus menjadi sorotan, publik tentu berhak mempertanyakan arah pembangunan negeri ini.

Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajahan. Merdeka juga berarti bebas dari kemiskinan, bebas dari ketimpangan, dan bebas dari rasa tidak berdaya untuk menentukan masa depan.

Mungkin itu pula yang membuat lagu “Merdeka untuk Apa” menemukan relevansinya di tengah kegelisahan masyarakat hari ini.