Debu Kapur Masih Cemari Permukiman Cipatat, Dinkes KBB Pantau Kondisi Kesehatan Warga

1783161215607

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes KBB, Lia Nurliani Sukandar

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

KBB, NYARINGINDONESIA.COM – Paparan debu yang berasal dari aktivitas pengolahan batu kapur di Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terus menjadi perhatian. Selain mengganggu aktivitas masyarakat, debu yang oleh warga diibaratkan seperti “hujan salju” itu juga dinilai berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada kelompok yang rentan.

Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat menerjunkan tim surveilans bersama petugas Puskesmas untuk melakukan pemantauan langsung di wilayah terdampak. Kegiatan tersebut bertujuan mendeteksi sedini mungkin kemungkinan munculnya gangguan kesehatan akibat paparan debu yang terjadi hampir setiap hari.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes KBB, Lia Nurliani Sukandar, menjelaskan bahwa pemantauan tidak hanya berfokus pada pendataan keluhan masyarakat. Petugas juga memberikan edukasi mengenai langkah-langkah pencegahan agar warga dapat meminimalkan risiko paparan debu kapur.

“Upaya ini dilakukan agar dampak kesehatan pada masyarakat dapat terpantau sejak dini dan dapat segera ditindaklanjuti apabila ditemukan peningkatan keluhan atau kasus penyakit tertentu,” ujar Lia saat dikonfirmasi, Sabtu (4/7/2026).

Berdasarkan hasil pemantauan sementara, keluhan yang paling banyak disampaikan warga meliputi batuk, tenggorokan terasa gatal dan kering, bersin, pilek, hingga iritasi mata yang menyebabkan mata merah, perih, dan berair. Selain itu, debu halus juga dilaporkan mudah masuk ke dalam rumah sehingga mengganggu kenyamanan dan aktivitas sehari-hari.

Dampak yang lebih serius dirasakan oleh warga yang memiliki riwayat penyakit saluran pernapasan. Mereka diketahui lebih rentan mengalami sesak napas ketika konsentrasi debu di lingkungan meningkat.

“Pada warga yang memiliki riwayat asma atau penyakit paru, terdapat keluhan sesak napas yang lebih mudah muncul atau kambuh ketika paparan debu meningkat. Oleh karena itu, kelompok rentan perlu lebih berhati-hati dan segera memeriksakan diri apabila keluhan tidak membaik,” jelas Lia.»

Meski menerima sejumlah laporan keluhan, Dinkes KBB menyebut hingga kini belum menemukan adanya peningkatan signifikan jumlah kunjungan pasien ke Puskesmas maupun fasilitas kesehatan yang dapat dikaitkan secara langsung dengan paparan debu kapur.

“Hingga saat ini, berdasarkan hasil pemantauan belum terdapat peningkatan kunjungan ke Puskesmas maupun fasilitas kesehatan yang signifikan dan secara langsung dapat dikaitkan dengan paparan debu kapur,” katanya.

Lia mengingatkan bahwa debu kapur dapat membahayakan kesehatan apabila terhirup dalam jumlah besar dan berlangsung secara terus-menerus. Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi meliputi balita, lansia, ibu hamil, serta penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan alergi saluran pernapasan.

Paparan debu berkepanjangan tidak hanya memicu iritasi pada mata, hidung, tenggorokan, serta saluran pernapasan, tetapi juga dapat memperburuk penyakit yang telah diderita masyarakat.

“Pada masyarakat yang memiliki riwayat asma atau penyakit paru, paparan debu dapat memperberat keluhan dan memicu kekambuhan. Apabila paparan terjadi terus-menerus tanpa pengendalian, debu juga dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan serta menurunkan kenyamanan dan kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah terdampak,” pungkasnya.