Demonstrasi Mahasiswa Warnai Pusat Ibu Kota, Polisi Amankan Terduga Penyusup

1781354670664

Aksi di kawasan Thamrin hingga Bundaran HI diwarnai ketegangan dan penyampaian aspirasi kebijakan pemerintah

JAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Aksi demonstrasi mahasiswa yang berlangsung pada Jumat, 12 Juni 2026, berjalan relatif tertib meskipun sempat diwarnai ketegangan di beberapa titik. Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Salah satu kelompok yang turut berpartisipasi dalam aksi adalah Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI). Mereka menyampaikan lima tuntutan utama, antara lain meminta pemerintah menghentikan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), menurunkan harga kebutuhan pokok serta bahan bakar minyak (BBM), menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG), membatalkan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, dan mengurangi praktik militerisme di ruang sipil. Selain itu, mahasiswa juga mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mengakui kesalahan serta lebih terbuka terhadap kritik publik.

Di tengah jalannya demonstrasi, aparat kepolisian mengamankan dua pria berpakaian hitam yang diduga sebagai provokator. Keduanya ditangkap di kawasan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, karena dicurigai berupaya menyusup ke dalam barisan mahasiswa dan memicu kericuhan.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menjelaskan bahwa kedua orang tersebut telah dibawa ke Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Dari tangan mereka, polisi mengamankan barang bukti berupa bom molotov yang ditemukan saat proses pengamanan berlangsung sekitar pukul 15.30 WIB. Menurutnya, kepolisian sebelumnya telah melakukan langkah antisipatif dengan mengidentifikasi individu yang berpotensi menimbulkan gangguan selama aksi berlangsung.

Sementara itu, situasi di kawasan Jalan M.H. Thamrin sempat memanas ketika ratusan mahasiswa BEM UI mencoba bergerak menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI). Upaya tersebut tertahan oleh barikade aparat gabungan TNI dan Polri yang berjaga ketat di sekitar lokasi. Aksi saling dorong sempat terjadi, tetapi massa tidak berhasil melewati pengamanan yang telah disiapkan.

Aparat juga memasang sejumlah pembatas jalan guna mencegah massa memasuki area yang telah ditetapkan sebagai kawasan steril. Akibatnya, mahasiswa hanya dapat melanjutkan orasi dan menyampaikan tuntutan mereka dari depan kompleks Thamrin Nine.

Demonstrasi yang berlangsung bertepatan dengan jam pulang kerja menimbulkan dampak signifikan terhadap lalu lintas di pusat Jakarta. Arus kendaraan dari arah Dukuh Atas menuju Bundaran HI tidak dapat melintas sama sekali, sedangkan jalur sebaliknya hanya dibuka satu lajur darurat. Kondisi tersebut menyebabkan kemacetan panjang dan pergerakan kendaraan menjadi sangat lambat.

Layanan transportasi umum, khususnya Transjakarta, turut terdampak akibat penutupan jalan. Beberapa rute mengalami pengalihan, sementara sebagian layanan dihentikan sementara. Banyak penumpang akhirnya memilih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju stasiun MRT atau KRL terdekat.

Di tengah kemacetan yang terjadi, sejumlah pengendara justru menunjukkan dukungan kepada para mahasiswa. Dukungan itu ditunjukkan melalui bunyi klakson yang dibunyikan berulang kali, serta gestur seperti acungan jempol dari dalam kendaraan. Respons tersebut disambut positif oleh peserta aksi yang membalas dengan sorakan dan lambaian tangan.

Mahasiswa juga menegaskan bahwa kehadiran mereka di jalan bukan untuk menciptakan kerusuhan, melainkan menyampaikan aspirasi demi kepentingan masyarakat luas. Perwakilan BEM UI menyatakan bahwa mereka tidak membawa senjata dan hanya ingin memperjuangkan perbaikan bagi rakyat Indonesia. Mereka meminta aparat menghormati hak warga negara untuk menyampaikan pendapat secara damai.

Di sisi lain, Polda Metro Jaya menegaskan komitmennya untuk mengedepankan pendekatan persuasif dalam pengamanan aksi. Kapolda Metro Jaya, Komisaris Jenderal Asep Edi Suheri, memerintahkan seluruh personel yang bertugas agar tidak membawa senjata api selama pengamanan demonstrasi. Ia juga menekankan bahwa penggunaan gas air mata hanya dapat dilakukan atas instruksinya secara langsung.

Menurut pihak kepolisian, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pengamanan berjalan secara humanis sekaligus mencegah terjadinya eskalasi yang dapat memperburuk situasi. Hingga aksi berlangsung, kondisi di sekitar Bundaran HI masih berada dalam pengawasan aparat dan secara umum tetap terkendali meskipun sempat terjadi ketegangan.

Untuk mengamankan jalannya demonstrasi di sejumlah titik Jakarta Pusat, kepolisian mengerahkan 3.099 personel gabungan. Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold EP Hutagalung menyampaikan bahwa ribuan petugas tersebut ditempatkan di berbagai lokasi yang menjadi pusat konsentrasi massa guna menjaga keamanan dan ketertiban selama aksi berlangsung.

======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News