Didik Rachbini: Proyek Digitalisasi Pendidikan Jadi “Jebakan Politik” bagi Nadiem Makarim

1778839126161

Rektor Universitas Paramadina menilai ambisi besar transformasi pendidikan berbasis teknologi sejak awal sarat persoalan kebijakan dan pengelolaan birokrasi.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

JAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Kasus dugaan korupsi proyek digitalisasi pendidikan yang menyeret nama mantan Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim, dinilai berawal dari ambisi besar modernisasi sistem pendidikan nasional berbasis teknologi.

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menyebut proyek pengadaan perangkat digital pendidikan itu merupakan program berskala nasional dengan nilai fantastis, mencapai hampir Rp10 triliun.

“Ini proyek besar nasional untuk mentransformasikan pendidikan menjadi lebih modern dan maju dibanding negara emerging market lainnya,” ujar Didik, Kamis (14/5/2026).

Menurutnya, proyek tersebut sejak awal sudah bermasalah secara administratif maupun kebijakan karena terlalu mengandalkan pendekatan teknologi sebagai solusi utama pendidikan atau tech-solutionism.

Didik juga menyoroti peran Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, yang dinilai sangat mendukung gagasan digitalisasi pendidikan. Ia menilai Jokowi terpikat pada kemampuan dan rekam jejak Nadiem saat membesarkan [Gojek](https://www.gojek.com?utm_source=chatgpt.com) hingga menjadi perusahaan teknologi raksasa.

“Prestasi Nadiem di dunia startup membuat Jokowi yakin ia mampu mentransformasikan pendidikan melalui digitalisasi,” katanya.

Namun, Didik menilai keberhasilan di dunia bisnis teknologi tidak otomatis membuat seseorang siap menghadapi kompleksitas birokrasi dan politik pemerintahan. Ia menyebut Nadiem tidak memiliki modal sosial-politik yang cukup kuat untuk bertahan di lingkungan birokrasi tingkat tinggi.

Meski proyek tersebut disebut mendapat dukungan langsung dari presiden, Didik menegaskan pertanggungjawaban penggunaan anggaran negara tetap harus dilakukan secara terbuka dan sesuai hukum.

Ia bahkan menilai akan lebih adil jika Joko Widodo turut dimintai keterangan di pengadilan karena namanya telah beberapa kali disebut dalam persidangan.

“Kita sayang kepada Nadiem. Pujian dan penghargaan terhadapnya justru menjadi jebakan ketika masuk ke wilayah politik yang penuh onak dan duri,” ujarnya.

Didik berharap kasus ini menjadi pelajaran agar figur muda berprestasi di bidang teknologi dan bisnis tidak mudah terseret ke dunia politik yang menurutnya penuh risiko dan kepentingan.

Ia membandingkan Nadiem dengan tokoh teknologi dunia seperti Mark Zuckerberg, Elon Musk, serta Jensen Huang yang tetap fokus membangun inovasi di bidangnya masing-masing tanpa masuk ke ranah politik praktis.