CIMAHI, NyaringIndonesia.com – Kedekatan SDN Pambudi Darma dengan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Santiong menjadi perhatian serius Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cimahi.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Lokasi sekolah yang berada di sekitar kawasan pengelolaan sampah dinilai kurang mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik.
Menimbang potensi dampak lingkungan terhadap kesehatan siswa, Disdik Kota Cimahi mulai membuka opsi relokasi SDN Pambudi Darma ke lokasi yang lebih layak. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan pendidikan sekaligus melindungi kondisi fisik peserta didik.
Namun demikian, pembenahan infrastruktur pendidikan tidak dapat dilakukan secara instan. Kepala Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana Bidang Pembinaan SD Disdik Kota Cimahi, Sofwan Kurniawan, mengungkapkan bahwa keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan utama.
“Kebijakan penghematan belanja pemerintah sedikit berdampak pada proses perbaikan sarana pendidikan. Karena itu, kami harus berpikir lebih kreatif untuk mencari sumber pendanaan di luar anggaran daerah agar layanan pendidikan tetap berjalan optimal,” ujar Sofwan saat ditemui, Rabu (7/1/2026).
Salah satu peluang yang kini dimaksimalkan adalah program revitalisasi sekolah yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan. Menurut Sofwan, dukungan anggaran dari pemerintah pusat menjadi pintu masuk strategis untuk mempercepat perbaikan fasilitas pendidikan di Kota Cimahi.
“Oleh karena itu, kami secara intensif mengajukan proposal bantuan ke kementerian terkait melalui berbagai skema pembiayaan, khususnya yang menyasar perbaikan sarana dan prasarana sekolah dasar,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa persoalan infrastruktur pendidikan di Kota Cimahi masih membutuhkan perhatian serius. Berdasarkan pendataan internal Disdik, sekitar 80 hingga 90 sekolah dasar tercatat mengalami kerusakan fisik bangunan maupun keterbatasan fasilitas penunjang pembelajaran.
“Kerusakan yang terjadi cukup beragam, mulai dari bangunan yang termakan usia, ruang kelas yang tidak lagi memenuhi standar kelayakan, hingga minimnya fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar,” jelasnya.
Sejumlah sekolah telah ditetapkan sebagai skala prioritas penanganan, di antaranya Kompleks SD Cibeber 1, 2, 3, dan 4. Selain itu, sekolah dengan jumlah siswa yang besar juga menjadi perhatian, seperti SDN Cipageran Mandiri 1.
“SDN Cipageran Mandiri 1 memerlukan perombakan besar guna memastikan kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung secara optimal,” pungkas Sofwan.