Dua Kali Tol Getaci Gagal Lelang, Pemerintah Diminta Ubah Strategi

Tol Getaci 2 Courtesy Kementerian PU
Minat investor rendah, proyek tol Getaci dinilai terlalu mahal dan berisiko tinggi

JAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Pusat Kajian Infrastruktur Strategis (PUKIS) menyoroti terhentinya pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Jalan Tol Gedebage – Tasikmalaya – Cilacap (Getaci) setelah dua kali proses lelang tidak membuahkan hasil.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Direktur Eksekutif PUKIS, M. M. Gibran Sesunan, menyatakan bahwa proyek ini kurang menarik bagi investor sehingga memerlukan perubahan strategi dari pemerintah.

“Tol Getaci sudah dua kali gagal dilelang. Artinya, ada persoalan mendasar yang harus segera diperbaiki agar proyek ini kembali diminati,” ujar Gibran dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (18/04/2026).

Pada lelang pertama, proyek ini sebenarnya sempat mendapatkan investor. Namun, konsorsium pemenang tidak mampu mencapai tahap penutupan pembiayaan (financial close), sehingga pemerintah harus mengulang proses lelang. Sayangnya, pada lelang kedua, tidak ada investor yang berminat.

Kondisi tersebut mendorong PUKIS mempertanyakan kesiapan pemerintah dalam menyiapkan langkah mitigasi demi menjaga keberlanjutan proyek. Menurut Gibran, tanpa perubahan pendekatan, pengulangan lelang hanya akan berakhir dengan kegagalan yang sama.

Ia menjelaskan bahwa kegagalan lelang ini berdampak signifikan terhadap kelangsungan proyek yang menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Tengah tersebut. Padahal, keberadaan investor sangat penting untuk membentuk Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang bertanggung jawab dalam pembangunan, pengembangan, hingga pengoperasian jalan tol.

Selain itu, BUJT juga berperan dalam penyusunan perencanaan teknis serta penyediaan dana talangan untuk pengadaan lahan jika anggaran pemerintah belum tersedia.

Gibran memaparkan beberapa faktor utama yang membuat proyek ini kurang diminati. Pertama, nilai investasi yang sangat besar tidak sebanding dengan proyeksi volume lalu lintas, terutama pada ruas Tasikmalaya hingga Cilacap yang diperkirakan rendah. Kondisi ini berdampak pada potensi pendapatan tol yang dinilai kurang menarik bagi investor.

Kedua, situasi investasi infrastruktur saat ini cenderung melemah. Ketidakpastian ekonomi membuat investor lebih berhati-hati, mengingat proyek infrastruktur membutuhkan modal besar, berisiko tinggi, dan memiliki masa pengembalian yang panjang. Selain itu, berkurangnya porsi anggaran infrastruktur dalam APBN juga memberi sinyal bahwa sektor ini bukan lagi prioritas utama pemerintah.

Sebagai solusi, PUKIS menawarkan beberapa alternatif. Pertama, pemerintah dapat terlibat langsung melalui skema dukungan konstruksi (dukon), sehingga beban investasi dapat dibagi dengan pihak swasta. Skema ini sebelumnya telah diterapkan pada proyek tol seperti Semarang–Demak dan Serang–Panimbang.

Namun demikian, Gibran meragukan kemampuan pemerintah untuk menyediakan dukungan tersebut, mengingat keterbatasan anggaran serta kebijakan terbaru yang menyatakan tidak adanya dukungan konstruksi untuk proyek KPBU.

Alternatif kedua adalah melibatkan lembaga investasi milik negara seperti Danantara atau Indonesia Investment Authority (INA) untuk memimpin konsorsium dalam proyek ini. Menurutnya, jika proyek ini dinilai layak secara komersial, maka entitas milik negara seharusnya dapat mengambil peran strategis.

Sementara itu, alternatif ketiga adalah membagi proyek Tol Getaci menjadi dua segmen, yakni Gedebage – Tasikmalaya dan Tasikmalaya – Cilacap. Dengan pemecahan ini, nilai investasi tiap proyek menjadi lebih kecil dan diharapkan lebih menarik bagi investor.

Gibran menilai, segmen Gedebage – Tasikmalaya memiliki potensi lalu lintas yang lebih tinggi sehingga lebih mudah ditawarkan terlebih dahulu. Setelah ruas tersebut berkembang dan permintaan meningkat, ruas lanjutan menuju Cilacap akan lebih mudah dipasarkan karena dukungan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi yang sudah terbentuk.

“Yang dibutuhkan saat ini adalah terobosan nyata dari pemerintah. Jangan hanya mengulang lelang tanpa perubahan strategi. Lebih baik pembangunan difokuskan hingga Tasikmalaya terlebih dahulu daripada terus stagnan,” tutupnya.

 

======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News