Eskalasi Iran di Selat Hormuz Guncang Perdagangan Minyak Dunia

1775561761255 2
Jalur vital energi kembali ditutup, puluhan kapal dipaksa berbalik di tengah konflik AS-Iran

IRAN, NYARINGINDONESIA.COM – Ketegangan di jalur distribusi energi global kembali meningkat setelah Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz. Pada Sabtu (18/4), armada laut Islamic Revolutionary Guard Corps Navy (IRGC Navy) dilaporkan memaksa sedikitnya dua kapal untuk berbalik arah, bahkan disertai tembakan peringatan.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Langkah tersebut menandai penguatan kontrol militer Iran atas salah satu jalur pelayaran paling krusial di dunia, yang sebelumnya menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak global.

Sejumlah laporan dari pelaku pelayaran menyebutkan bahwa kapal-kapal yang mencoba melintas menerima siaran radio dari IRGC Navy yang menyatakan jalur tersebut kembali ditutup total bagi seluruh jenis kapal.

Di sisi lain, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) yang bermarkas di Dubai melaporkan adanya insiden penembakan oleh dua kapal patroli bersenjata Iran terhadap sebuah kapal tanker dan satu kapal lainnya di wilayah timur laut Oman.

Informasi dari TankerTrackers juga menyebutkan bahwa dua kapal berbendera India dipaksa mundur. Salah satunya merupakan kapal tanker raksasa jenis VLCC yang membawa sekitar dua juta barel minyak dari Irak. Hingga kini, belum ada kepastian mengenai dampak terhadap muatan maupun kondisi kapal.

Sebelumnya, otoritas Iran telah menyatakan akan kembali memberlakukan pengawasan militer yang lebih ketat di Selat Hormuz. Dalam siaran televisi nasional, komando militer Iran menuding Amerika Serikat melanggar komitmen dengan tetap menjalankan blokade terhadap kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran.

Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, turut menegaskan kesiapan angkatan laut negaranya untuk menghadapi pihak yang dianggap sebagai lawan. Dalam pernyataannya di Telegram, ia bahkan menyebut potensi memberikan “kekalahan pahit baru”.

“Hal utama adalah Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Itu melampaui segalanya,” ujar Trump kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa blokade AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku hingga kesepakatan resmi ditandatangani. “Begitu perjanjian ditandatangani, blokade berakhir,” katanya.

Sementara itu, mengutip The National, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sempat menyampaikan adanya perkembangan positif terkait Iran, meski tidak merinci lebih lanjut. Namun, ia juga mengingatkan bahwa konflik dapat kembali memanas jika tidak tercapai kesepakatan sebelum masa gencatan senjata berakhir dalam waktu dekat.

Sementara itu, mengutip The National, beberapa jam sebelum insiden, Presiden AS Donald Trump sempat menyebut ada ‘kabar cukup baik’ terkait Iran, meski tidak merinci lebih jauh.

Trump menegaskan bahwa isu utama tetap pada pencegahan kepemilikan senjata nuklir oleh Iran. Ia juga menyatakan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran akan tetap diberlakukan hingga kesepakatan resmi dicapai.

Upaya diplomatik antara kedua negara hingga kini masih menemui hambatan. Laporan media Iran menyebutkan bahwa Teheran belum menyetujui rencana perundingan lanjutan, meskipun sebelumnya sempat muncul sinyal akan adanya pertemuan baru.

Di tengah situasi tersebut, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, melakukan kunjungan diplomatik ke sejumlah negara, termasuk Turki, guna mendorong stabilitas kawasan. Ia menyatakan komitmennya untuk memperkuat kerja sama dan dialog demi menjaga perdamaian regional.

“Saya meninggalkan Antalya dengan komitmen baru untuk memperkuat hubungan persaudaraan dan mendorong dialog demi stabilitas kawasan,” tulis Sharif.

Selain itu, Panglima militer Pakistan, Asim Munir, juga melakukan kunjungan ke Teheran dan menekankan pentingnya langkah de-eskalasi serta penyelesaian konflik secara damai.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada kepastian mengenai kelanjutan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran maupun peluang tercapainya kesepakatan terkait program nuklir.

Komando Pusat Amerika Serikat juga melaporkan bahwa sedikitnya 23 kapal telah mematuhi perintah untuk berbalik arah sejak blokade diberlakukan. Situasi ini semakin memicu kekhawatiran pasar global, mengingat peran vital Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi energi dunia.

 

======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News