FIFA Urungkan Rencana Ubah Aturan Adu Penalti di Tengah Piala Dunia 2026, Sistem Lama Tetap Dipertahankan

1782823769493
Di tengah berlangsungnya turnamen, FIFA sempat mendorong perubahan besar pada prosedur adu penalti, namun akhirnya memutuskan mempertahankan sistem yang berlaku saat ini.

AMERIKA SERIKAT, NYARINGINDONESIA.COM – Piala Dunia 2026 tak hanya menghadirkan drama di atas lapangan, tetapi juga memunculkan pembahasan penting mengenai aturan permainan. Di tengah berlangsungnya turnamen, FIFA sempat mendorong perubahan besar pada prosedur adu penalti, namun akhirnya memutuskan mempertahankan sistem yang berlaku saat ini.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Turnamen yang untuk pertama kalinya diikuti 48 negara kini telah memasuki fase gugur. Kanada menjadi tim pertama yang memastikan tiket ke babak 16 besar usai menaklukkan Afrika Selatan berkat gol dramatis Stephen Eustaquio di penghujung laga. Tak lama berselang, Brasil juga menyusul setelah bangkit mengalahkan Jepang 2-1 melalui gol penentu Gabriel Martinelli pada menit-menit akhir.

Di balik sengitnya persaingan menuju babak 16 besar, FIFA ternyata tengah mengkaji perubahan aturan adu penalti bersama International Football Association Board (IFAB).

Usulan tersebut berkaitan dengan mekanisme lemparan koin sebelum adu penalti dimulai. Selama ini, prosedur dilakukan melalui dua kali lemparan koin, yakni untuk menentukan sisi gawang dan tim yang mendapat giliran menendang lebih dulu.

FIFA mengusulkan agar proses tersebut disederhanakan menjadi satu kali lemparan koin saja. Dalam skema itu, kapten yang memenangkan undian berhak memilih apakah timnya akan menendang lebih dulu atau menentukan sisi gawang. Tim yang kalah otomatis memperoleh pilihan yang tidak diambil lawannya.

Perubahan tersebut diusulkan demi menciptakan keseimbangan. FIFA menilai sistem lama berpotensi memberikan keuntungan ganda kepada salah satu tim apabila berhasil memenangkan dua kali undian.

Namun, setelah melalui pembahasan bersama IFAB, usulan tersebut akhirnya tidak disetujui.

Laporan The Athletic menyebutkan diskusi berakhir tanpa perubahan aturan sehingga prosedur adu penalti yang berlaku selama ini tetap digunakan sepanjang Piala Dunia 2026.

Jurnalis BBC, Dale Johnson, mengungkapkan bahwa IFAB sebenarnya cukup terbuka terhadap ide tersebut dan tidak menutup kemungkinan uji coba dilakukan pada kompetisi lain di masa mendatang. Meski demikian, perubahan itu dipastikan belum akan diterapkan pada turnamen sepak bola terbesar dunia.

Artinya, setiap pertandingan Piala Dunia yang berlanjut ke adu penalti tetap diawali dengan dua kali lemparan koin. Undian pertama menentukan tim yang menendang lebih dahulu, sedangkan undian kedua menentukan gawang yang akan digunakan selama adu penalti.

Sejauh ini, drama tos koin tersebut telah mewarnai dua pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026.

Jerman menjadi korban pertama setelah disingkirkan Paraguay lewat adu penalti 3-4 seusai bermain imbang 1-1 sepanjang 120 menit.

Nasib serupa dialami Belanda yang harus mengakhiri perjalanan mereka setelah kalah 2-3 dari Maroko melalui babak adu penalti.

Perdebatan mengenai pentingnya hasil lemparan koin sebenarnya bukan hal baru dalam dunia sepak bola. Banyak pihak meyakini tim yang mendapat kesempatan menendang lebih dulu memiliki keuntungan psikologis lebih besar dibanding lawannya.

Situasi serupa juga sempat menjadi sorotan pada final Liga Champions musim ini, ketika Arsenal kalah dalam dua kali undian melawan Paris Saint-Germain sebelum akhirnya gagal meraih gelar.

Contoh lain terjadi pada final Piala Dunia 2022 di Qatar. Saat itu, kapten Prancis Hugo Lloris memenangkan undian kedua sehingga berhak menentukan giliran pertama dalam adu penalti, sementara Argentina memperoleh keuntungan menendang di depan pendukungnya sendiri di Stadion Lusail.

Meski demikian, keunggulan tersebut tidak cukup mengubah hasil akhir. Argentina tetap keluar sebagai juara dunia setelah Gonzalo Montiel sukses mengeksekusi penalti penentu kemenangan dan memastikan gelar Piala Dunia ketiga bagi Albiceleste.

Dengan keputusan terbaru ini, seluruh pertandingan yang berpotensi berlanjut ke adu penalti pada Piala Dunia 2026 akan tetap menggunakan prosedur lama, sementara wacana perubahan aturan kemungkinan baru akan dibahas kembali setelah turnamen berakhir.

 

 

======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News