Suhu yang menembus lebih dari 40 derajat Celsius di berbagai negara merupakan hasil perpaduan antara fenomena atmosfer alami dan perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia. (foto,shutterstock)
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!JAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa pekan terakhir dinilai bukan sekadar anomali cuaca, melainkan sinyal kuat bahwa dampak perubahan iklim semakin nyata. Pakar kesehatan masyarakat sekaligus epidemiolog Dicky Budiman mengingatkan Indonesia untuk tidak menganggap fenomena tersebut sebagai masalah yang hanya terjadi di kawasan Eropa.
Menurut Dicky, suhu yang menembus lebih dari 40 derajat Celsius di berbagai negara merupakan hasil perpaduan antara fenomena atmosfer alami dan perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia.
“Peristiwa di Eropa seharusnya menjadi alarm bagi seluruh negara, termasuk Indonesia, agar lebih siap menghadapi ancaman kesehatan akibat suhu panas yang semakin ekstrem,” ujar Dicky kepada media.
Heat Dome hingga Udara Panas Sahara
Dicky menjelaskan, salah satu penyebab utama gelombang panas di Eropa adalah terbentuknya heat dome atau kubah panas. Fenomena ini terjadi ketika sistem tekanan udara tinggi memerangkap udara panas di dekat permukaan bumi sehingga awan sulit terbentuk dan hujan tidak turun.
Akibatnya, panas terus terakumulasi dari hari ke hari tanpa proses pendinginan alami.
Selain itu, masuknya massa udara panas dari kawasan Gurun Sahara turut memperparah kondisi. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat sejumlah negara mencatat suhu yang sangat tinggi.
Beberapa wilayah bahkan mencetak rekor baru, di antaranya Spanyol yang mencapai sekitar 45 derajat Celsius, Prancis melampaui 43 derajat Celsius, serta Jerman, Polandia, Republik Ceko, Hungaria, dan Slovakia yang sama-sama mengalami suhu di atas 40 derajat Celsius.
Di Prancis, lonjakan suhu tersebut dilaporkan turut berdampak pada peningkatan angka kematian yang mencapai hampir 30 persen pada puncak gelombang panas, 22 Juni 2026.
Perubahan Iklim Jadi Penyebab Utama
Meski fenomena atmosfer turut berperan, Dicky menilai akar persoalan sebenarnya adalah pemanasan global akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca.
Ia mengungkapkan, kesimpulan tersebut juga mengemuka dalam forum internasional mengenai keamanan kesehatan global, One Health, dan Planetary Health yang baru diikutinya di Brisbane, Australia.
Menurutnya, para ilmuwan sepakat bahwa gelombang panas Eropa pada Juni 2026 hampir mustahil terjadi dengan intensitas seperti sekarang apabila tidak dipengaruhi perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
“Eropa merupakan kawasan yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia, bahkan lajunya hampir dua kali lipat dibanding rata-rata global,” jelasnya.
Indonesia Tidak Kebal
Meski gelombang panas Eropa tidak akan berpindah secara langsung ke Indonesia, Dicky mengingatkan bahwa ancaman suhu ekstrem di Tanah Air juga terus meningkat.
Kenaikan suhu rata-rata membuat hari-hari panas semakin sering terjadi. Namun yang lebih perlu diwaspadai adalah meningkatnya heat index, yakni suhu yang benar-benar dirasakan tubuh setelah dipengaruhi tingkat kelembapan udara.
Berbeda dengan Eropa yang cenderung memiliki kelembapan rendah, Indonesia justru memiliki kelembapan tinggi sehingga penguapan keringat menjadi kurang efektif.
Akibatnya, tubuh lebih sulit mendinginkan diri dan risiko gangguan kesehatan seperti dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), heat stroke, hingga memburuknya penyakit jantung menjadi lebih besar.
“Meskipun suhu udara di Indonesia hanya berkisar 34 sampai 36 derajat Celsius, dampaknya bisa terasa lebih berat karena tingkat kelembapan yang tinggi,” kata Dicky.
Kota Besar Hadapi Risiko Lebih Tinggi
Menurut Dicky, ancaman panas di Indonesia juga diperburuk oleh fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan.
Kondisi ini menyebabkan suhu di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar menjadi lebih tinggi dibanding wilayah sekitarnya akibat dominasi bangunan beton, aspal, serta minimnya ruang terbuka hijau.
Selain itu, polusi udara dan fenomena hot night, yaitu suhu yang tetap tinggi pada malam hari, turut memperbesar risiko kesehatan.
Saat malam tidak lagi cukup sejuk, tubuh kehilangan kesempatan untuk memulihkan diri setelah seharian terpapar panas.
“Kombinasi suhu tinggi, kelembapan tinggi, polusi udara, dan malam yang tetap panas dapat meningkatkan angka kesakitan bahkan kematian,” pungkas Dicky.
======================
Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.
Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News

