Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan pada musim kemarau panjang tahun 2026 ini
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!BANDUNG BARAT, NYARINGINDONESIA.COM – Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) resmi menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) selama musim kemarau 2026. Penetapan tersebut berlaku mulai 1 Juli hingga 30 September 2026 sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi bencana yang diperkirakan meningkat.
Status siaga darurat tersebut ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Bandung Barat dan menjadi dasar bagi seluruh perangkat daerah untuk memperkuat upaya mitigasi serta kesiapsiagaan selama musim kemarau.
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, mengatakan kebijakan tersebut diambil sebagai bentuk kesiapan pemerintah daerah dalam menghadapi ancaman kekeringan dan kebakaran hutan yang berpotensi terjadi selama beberapa bulan ke depan.
“Adapun periode masa siaga darurat bencana terhitung mulai tanggal 1 Juli 2026 sampai dengan 30 September 2026 melalui SK Bupati Bandung Barat,” kata Jeje saat dikonfirmasi, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, langkah itu juga sejalan dengan arahan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang telah meminta daerah-daerah dengan tingkat kerawanan tinggi meningkatkan kewaspadaan sejak dini.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut Kabupaten Bandung Barat sebagai salah satu wilayah yang memiliki tingkat kerentanan cukup tinggi terhadap bencana kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan.
Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2024, ancaman kekeringan dan karhutla di Bandung Barat masih berada dalam kategori tinggi. Meski demikian, terdapat perkembangan positif karena jumlah desa dengan tingkat risiko kekeringan tertinggi menurun dari delapan desa pada 2023 menjadi tujuh desa pada 2024.
“Pada tahun 2023, jumlah desa yang risiko tinggi kekeringan ada 8, kemudian di tahun 2024 jumlahnya turun menjadi 7 desa. Mengantisipasi krisis air bersih, kita siagakan 3 truk tangki yang akan mendistribusikan air bersih ke titik kekeringan,” kata Jeje.
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah menyiapkan tiga unit truk tangki untuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.
Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan anggaran melalui pos Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk mendukung penanganan berbagai kondisi darurat, baik dalam penyediaan air bersih maupun penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.
“Anggarannya ada, dari Belanja Tidak Terduga (BTT). Terkait nominal kan disesuaikan kebutuhannya, intinya kita siapkan sebagai langkah penanganan,” kata Jeje.
Di sisi lain, upaya pencegahan karhutla diperkuat melalui kerja sama dengan Perhutani untuk memetakan kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran.
Pemerintah daerah juga mengoptimalkan peran desa-desa tangguh bencana agar mampu melakukan deteksi dini dan penanganan cepat apabila terjadi kebakaran di wilayahnya.
Melalui berbagai langkah tersebut, Pemkab Bandung Barat berharap dampak musim kemarau tahun ini dapat ditekan semaksimal mungkin, sehingga keselamatan masyarakat serta kelestarian lingkungan tetap terjaga.
======================
Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.
Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News

