Cimahi, NyaringIndonesia.com – Harga emas dan perak dunia kompak mencetak rekor tertinggi pada perdagangan Senin (22/12/2025). Kenaikan signifikan logam mulia ini didorong oleh meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga Amerika Serikat (AS), melemahnya dolar AS, serta lonjakan permintaan terhadap aset lindung nilai (safe haven).
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Mengutip Reuters, harga emas spot melonjak 1,7 persen ke level 4.410,54 dolar AS per troy ons pada pukul 11.39 GMT. Sebelumnya, emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level 4.420,01 dolar AS per troy ons.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari menguat 1,3 persen menjadi 4.443,90 dolar AS per troy ons.
Secara tahunan, harga emas telah melonjak hampir 68 persen sepanjang 2025, menjadi kenaikan terbesar sejak 1979. Lonjakan ini ditopang oleh pembelian agresif bank sentral, arus dana safe haven, serta ekspektasi lingkungan suku bunga yang lebih rendah.
Kinerja serupa juga ditunjukkan oleh perak. Harga perak spot naik 2,9 persen menjadi 69,05 dolar AS per troy ons, setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi di level 69,44 dolar AS per troy ons. Sepanjang 2025, harga perak telah melesat hingga 139 persen.
Kenaikan harga perak didorong oleh defisit pasokan yang berkepanjangan, meningkatnya kebutuhan industri, serta permintaan investasi yang tetap kuat.
“Penurunan suku bunga mendukung permintaan terhadap aset riil seperti emas dan perak. Namun, kami juga melihat tembaga berada di level rekor, yang mencerminkan minat investor terhadap komoditas secara luas, kemungkinan akibat ekspektasi inflasi yang bertahan lebih lama,” ujar analis UBS, Giovanni Staunovo.
Dari sisi kebijakan moneter, Gubernur Federal Reserve Stephen Miran pada Jumat menegaskan bahwa bank sentral AS perlu memangkas suku bunga seiring meredanya tekanan inflasi dan meningkatnya risiko terhadap pasar tenaga kerja.
Emas dan perak selama ini dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi sekaligus aset aman di tengah ketidakpastian global. Kedua logam mulia tersebut juga cenderung diuntungkan dalam kondisi suku bunga rendah.
“Ini merupakan momentum yang bersifat self-fulfilling. Namun, jika harus menunjuk satu faktor fundamental utama, saya menyoroti penggunaan kata ‘perang’ oleh Presiden Trump pekan lalu terkait Venezuela, setelah sebelumnya mengusung narasi ‘perdamaian’,” kata analis StoneX, Rhona O’Connell.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah dan berada di jalur penurunan tahunan terdalam sejak 2017. Pelemahan dolar membuat emas dan perak menjadi lebih terjangkau bagi investor di luar Amerika Serikat.
Staunovo menambahkan, prospek harga emas ke depan masih positif. “Pandangan kami tetap bahwa emas berpotensi mencapai level yang lebih tinggi tahun depan, dengan target 4.500 dolar AS per ons,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Goldman Sachs memproyeksikan tren kenaikan harga emas masih berlanjut hingga akhir 2026. Dalam laporan terbarunya yang dirilis Kamis, bank investasi tersebut memperkirakan harga emas naik sekitar 14 persen menjadi 4.900 dolar AS per troy ons pada Desember 2026 dalam skenario dasar.
Goldman Sachs menilai peluang kenaikan harga emas tetap terbuka lebar, terutama jika diversifikasi investasi ke emas semakin meluas ke investor ritel. Permintaan struktural dari bank sentral serta dukungan dari siklus penurunan suku bunga Federal Reserve disebut menjadi pendorong utama.
Dalam laporan prospek komoditas 2026, Goldman Sachs juga menegaskan tetap merekomendasikan posisi beli (long exposure) pada emas.
=======================
Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.
Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News