Harga Minyak Naik 50 Persen, AS Terpaksa Buka Keran Minyak Iran

1774152641110

Kebijakan darurat Washington dinilai untuk menjaga stabilitas ekonomi dan menekan dampak perang terhadap pasar global

Amerika, NyaringIndonesia.com – Pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah tak biasa dengan menangguhkan sanksi terhadap pembelian minyak Iran yang sedang berada di laut selama 30 hari. Kebijakan darurat ini dilakukan untuk menekan lonjakan harga minyak dunia yang terjadi setelah pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, melalui akun media sosial X menyampaikan bahwa pelonggaran tersebut diperkirakan dapat menambah sekitar 140 juta barel minyak ke pasar global. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi tekanan besar terhadap pasokan energi dunia yang saat ini terganggu akibat konflik.

Keputusan tersebut menunjukkan kekhawatiran serius Gedung Putih terhadap dampak ekonomi dari serangan militer yang berlangsung dalam beberapa minggu terakhir. Kenaikan harga energi dinilai berpotensi membebani dunia usaha dan masyarakat di dalam negeri, terutama menjelang pemilihan umum sela (midterm elections) yang akan digelar pada November mendatang.

Stabilitas harga bahan bakar menjadi faktor penting bagi Partai Republik dalam mempertahankan dukungan politik dan kendali di Kongres. Oleh karena itu, pemerintah berupaya menjaga harga bensin tetap terkendali di tengah ketidakpastian global.

Dalam menjelaskan kebijakan tersebut, Bessent menyampaikan pernyataan yang menegaskan strategi pemerintah. Ia menyebut Amerika Serikat akan memanfaatkan stok minyak Iran untuk menjaga harga tetap rendah, sambil tetap melanjutkan operasi militer yang sedang berlangsung.

Meski minyak Iran dilepas ke pasar, Washington menegaskan tekanan ekonomi terhadap Teheran tetap diberlakukan. Pemerintah AS berupaya memastikan Iran tetap kesulitan mengakses pendapatan dari penjualan minyak melalui sistem keuangan internasional.

Dari sisi logistik, kebijakan ini diperkirakan memberikan dampak cepat bagi kawasan Asia sebagai pembeli utama minyak Timur Tengah. Menteri Energi AS, Chris Wright, memperkirakan pasokan minyak tersebut dapat tiba di pasar Asia dalam waktu tiga hingga empat hari. Namun, pengaruhnya terhadap harga global baru akan terasa setelah minyak tersebut melalui proses pengolahan, yang diperkirakan memakan waktu sekitar satu setengah bulan.

Selama ini, Amerika Serikat hampir tidak pernah mengimpor minyak dari Iran sejak Revolusi Islam pada 1979. Namun, kebijakan kali ini lebih difokuskan untuk menstabilkan pasokan energi dunia yang sempat terganggu setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak global.

Meski demikian, langkah tersebut juga memunculkan kritik dan kekhawatiran terkait ketahanan strategi ekonomi Amerika Serikat.

Sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari lalu, harga minyak dunia dilaporkan melonjak hingga sekitar 50 persen. Kondisi ini mendorong pemerintahan Presiden Donald Trump untuk beberapa kali menangguhkan sanksi terhadap negara lain, termasuk Rusia, dalam waktu singkat.

Pengamat energi dari Obsidian Risk Advisers, Brett Erickson, menilai kebijakan tersebut menunjukkan situasi yang semakin mendesak. Menurutnya, jika Amerika Serikat sampai melonggarkan sanksi terhadap negara yang sedang berkonflik dengannya, hal itu menandakan pilihan kebijakan yang tersedia semakin terbatas.

 

======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News