Harga Minyak Terjun Bebas, Harapan Damai AS-Iran Tekan Pasar Energi Global

1780100861488

Harga minyak dunia mencatat penurunan mingguan terdalam sejak April setelah muncul kabar kesepakatan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

NYARINGINDONESIA.COM – Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat (29/5/2026) dan berada di jalur penurunan mingguan paling tajam dalam hampir dua bulan terakhir. Sentimen pasar dipicu oleh laporan mengenai kesepakatan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai dapat meredakan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Pada pukul 11.00 WIB, minyak mentah Brent kontrak Juli 2026 turun sebesar US$1,04 atau 1,1 persen ke level US$92,67 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi lebih dalam, yakni US$1,26 atau 1,4 persen menjadi US$87,64 per barel.

Secara mingguan, harga Brent telah merosot sekitar 10,5 persen, menjadi penurunan terbesar sejak awal April. Adapun WTI mencatat pelemahan 9,2 persen, sekaligus menjadi koreksi mingguan terdalam dalam periode yang sama.

Tekanan terhadap pasar minyak muncul setelah sejumlah sumber mengungkapkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepahaman untuk memperpanjang gencatan senjata serta melonggarkan pembatasan pelayaran melalui Selat Hormuz. Meski demikian, kesepakatan tersebut disebut masih menunggu persetujuan resmi dan belum dinyatakan final.

Pelaku pasar menilai perkembangan tersebut sebagai sinyal positif bagi stabilitas pasokan energi global. Selama beberapa bulan terakhir, konflik di kawasan Timur Tengah telah memicu kekhawatiran terhadap gangguan distribusi minyak dan gas dunia.

Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menilai mayoritas pelaku pasar saat ini meyakini konflik telah memasuki fase akhir. Jika narasi tersebut terus bertahan, harga minyak berpotensi melanjutkan tren penurunan menuju area US$80 per barel.

“Konsensus tetap bahwa konflik telah berakhir, dan kesepakatan akan segera tercapai. Selama narasi ini bertahan, harga minyak mentah masih memiliki ruang untuk memperpanjang penurunannya menuju dukungan garis tren di kisaran $80-an,” kata Tony Sycamore.

Dalam beberapa sesi terakhir, pasar minyak memang mengalami volatilitas tinggi. Harga sempat bergerak ekstrem akibat beragam sinyal terkait kemungkinan berakhirnya konflik serta prospek pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur laut yang menjadi titik vital bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.

Meski peluang normalisasi mulai terlihat, para analis mengingatkan bahwa pemulihan sektor energi tidak akan berlangsung secara instan. Aktivitas produksi minyak di sejumlah wilayah terdampak konflik masih berada di bawah kapasitas normal karena keterbatasan fasilitas penyimpanan dan kerusakan infrastruktur.

Analis dari ING menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz memang dapat memberikan kelegaan bagi pasar dalam jangka pendek. Namun, peningkatan produksi minyak dan operasional kilang diperkirakan berlangsung secara bertahap mengingat sebagian fasilitas energi sebelumnya menjadi sasaran serangan selama konflik berlangsung.

Kondisi tersebut membuat pasar energi global masih akan mencermati perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari ke depan. Kejelasan mengenai kesepakatan final berpotensi menjadi faktor utama yang menentukan arah harga minyak selanjutnya.

 

======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News