Harga Obat di Indonesia Bisa Capai Enam Kali Lipat Harga Global

1780528713896

Budi Gunadi Sadikin menyoroti tingginya harga sejumlah obat di Indonesia dan meminta kebijakan yang menyebabkan selisih harga segera dibenahi.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

JAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti masih mahalnya harga sejumlah obat di Indonesia yang dinilai jauh di atas harga acuan internasional. Kondisi tersebut dianggap menjadi tantangan dalam upaya memperluas akses pengobatan bagi masyarakat, khususnya pasien yang membutuhkan terapi jangka panjang.

Dalam pembahasan mengenai penguatan layanan penanganan penyakit hati dan hepatitis nasional di Jakarta, Selasa (2/6/2026), Budi mengungkapkan adanya perbedaan harga yang cukup signifikan antara obat yang beredar di Indonesia dengan harga referensi dunia.

Menurutnya, sejumlah obat untuk pengobatan hepatitis masih dijual dengan harga dua hingga enam kali lebih mahal dibandingkan harga global. Ia menilai kondisi tersebut sebagai sebuah anomali yang perlu segera dibenahi melalui kebijakan yang tepat.

Salah satu contoh yang disampaikan adalah tenofovir disoproxil fumarate (TDF). Obat tersebut disebut dipasarkan di Indonesia dengan harga sekitar USD 4,8, sementara harga acuan yang digunakan Global Fund berada di kisaran USD 2,4.

Perbedaan serupa juga terjadi pada entecavir (ETV), obat yang digunakan untuk terapi hepatitis B. Di Indonesia, harga obat tersebut mencapai sekitar USD 18, sedangkan harga benchmark internasional hanya sekitar USD 7,5.

Kesenjangan yang lebih besar ditemukan pada beberapa obat hepatitis C. Daclatasvir (DAC), misalnya, dijual sekitar USD 152 di pasar Indonesia, sementara harga globalnya hanya sekitar USD 24. Selisih tersebut membuat harga obat itu lebih dari enam kali lipat dibandingkan harga internasional.

Hal yang sama juga terlihat pada kombinasi obat sofosbuvir dan velpatasvir. Menurut Budi, harga produk tersebut di Indonesia mencapai sekitar USD 1.100, sedangkan harga acuan dunia berada di angka USD 174.

Menkes mengaku masih mempertanyakan penyebab tingginya harga obat di dalam negeri, padahal pemerintah telah menjalin kerja sama dengan Medicines Patent Pool untuk memperluas akses masyarakat terhadap obat-obatan tertentu melalui sistem lisensi yang lebih terbuka.

Ia menegaskan bahwa persoalan harga obat perlu menjadi perhatian serius karena berpengaruh langsung terhadap kemampuan pasien dalam memperoleh pengobatan yang berkelanjutan. Harga yang lebih terjangkau diyakini akan membantu penderita hepatitis menjalani terapi secara rutin tanpa terbebani biaya yang tinggi.

Selain menyoroti harga obat, Budi juga menekankan pentingnya peningkatan layanan transplantasi hati di Indonesia. Saat ini jumlah transplantasi hati masih berkisar ratusan kasus per tahun, jauh di bawah kebutuhan nasional.

Pemerintah menargetkan kapasitas layanan transplantasi hati dapat meningkat hingga mencapai 10 ribu tindakan setiap tahun. Untuk mewujudkan target tersebut, layanan transplantasi hati diharapkan dapat tersedia di seluruh 34 provinsi sehingga akses masyarakat terhadap penanganan penyakit hati semakin merata.