CIMAHI, NyaringIndonesia.com – Hotel Tjimahi tercatat sebagai salah satu bangunan bersejarah yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan bangsa sekaligus pertumbuhan Kota Cimahi. Hotel yang berdiri di atas lahan seluas sekitar 3.254 meter persegi ini menyimpan jejak sejarah hampir satu abad.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Bangunan tersebut awalnya dibangun oleh pasangan Nyi Rd. Fatimah Singawinata dan suaminya, Veen, warga negara Belanda. Pada masa awal, lokasi itu difungsikan sebagai vila pribadi lengkap dengan kebun mawar. Seiring waktu, bangunan tersebut beralih fungsi menjadi penginapan dan secara resmi beroperasi sebagai hotel pada tahun 1927.
Kini, Hotel Tjimahi dikelola oleh cucu Nyi Fatimah, Theresia Gerungan Soetamanggala. Namun, pengelolaan hotel berusia 99 tahun itu kian menghadapi tantangan berat, terutama sejak pandemi COVID-19 yang menghantam sektor perhotelan dan menyebabkan omzet merosot tajam.
Situasi tersebut memicu munculnya kabar penjualan Hotel Tjimahi di media sosial. Sebuah unggahan di platform TikTok bahkan menyebutkan nilai jual hotel tersebut mencapai Rp35 miliar.
“Keputusan uuntu melepas hotel ini bukan tiba-tiba. Beban biaya operasional terus meningkat, ditambah minimnya pemasukan, kalau tetus begini, kami tak sanggup lagi mengelola hotel sendirian.” ungkapnya.
Selain faktor finansial, ketiadaan penerus di lingkungan keluarga juga menjadi pertimbangan besar. Ketiga anak Theresia memilih jalur karier berbeda dan tidak berminat melanjutkan usaha perhotelan.
Saat ini, mereka tengah menekuni profesi sebagai penyelaman, yang dua orang bahkan telah menjadi instruktur selam.” tambahnya.
Sementara itu, kewajiban pajak turut menambah tekanan. Setiap tahun, hotel harus menanggung Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dengan nominal minimal Rp60 juta karena masuk kategori properti bernilai tinggi.
Theresia juga menyampaikan, masa pandemi menjadi periode paling sulit. Hotel terpaksa menghentikan operasional, namun ia memilih mempertahankan seluruh karyawan yang telah lama mengabdi.
“Saat Pandemi, kami tak mendapatkan insentif maupun keringanan pajak dari pemerintah daerah, bahkan sempat dikenai denda.” ujarnya.
Meski wacana penjualan memicu kekhawatiran publik, Theresia berharap identitas dan bentuk asli Hotel Tjimahi tetap dipertahankan jika kelak berpindah tangan. Ia menginginkan bangunan tersebut tidak mengalami perubahan besar dan tetap difungsikan sebagai hotel bersejarah.
Setelah melalui pertimbangan panjang selama bertahun-tahun, Theresia menyatakan telah berdamai dengan keputusan tersebut.
“Sebenarnya, kami membuka peluang bagi investor yang memiliki komitmen untuk menjaga nilai sejarah Hotel Tjimahi tanpa menghilangkan karakter aslinya.” pungkasnya. (Bzo)