IHSG Anjlok, Rupiah Diambang Level Rp18.000

1780639289537

Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus berlanjut sejak awal minggu turut memicu capital outflow.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

JAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada di bawah tekanan pada perdagangan hari ini, Jumat (5/6/2026). Mata uang Garuda sempat melemah hingga mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS, mencerminkan sentimen negatif yang masih menyelimuti pasar keuangan domestik.

Berdasarkan data pasar pagi ini, rupiah bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.900 – Rp17.980 per dolar AS. Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari tren negatif beberapa hari terakhir, di mana pada Kamis (4/6), rupiah sempat menembus level Rp18.024 per dolar AS akibat aksi jual aset berdenominasi rupiah oleh investor asing dan kekhawatiran terhadap stabilitas makroekonomi.

Analis pasar menyebutkan beberapa faktor yang membebani rupiah hari ini:
1. Kekuatan Dolar AS: Indeks Dolar AS (DXY) masih kuat didorong oleh ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed yang tetap higher for longer.

2. Sentimen Pasar Modal: Pada perdagangan Rabu (3/6), IHSG bahkan anjlok hingga lebih dari 5% ke level bawah 5.900.

3. Harga Minyak Dunia: Kenaikan harga minyak mentah global meningkatkan kekhawatiran defisit neraca perdagangan Indonesia, yang secara tidak langsung menekan nilai tukar.

Menanggapi volatilitas ini, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan terus memantau perkembangan pasar. BI dipastikan siap melakukan intervensi di pasar spot, DNDF, dan SBN untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tetap sesuai dengan fundamental ekonomi.

“Kami akan terus berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk memastikan likuiditas dolar AS tetap terjaga dan mencegah spekulasi berlebihan,” ujar Prasetyo. Ju’mat (05/06/2026)

Para pengamat ekonomi menyarankan pelaku usaha untuk tetap berhati-hati dalam mengelola eksposur valuta asing. Meskipun pelemahan rupiah terjadi, fundamental ekonomi Indonesia seperti inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang stabil dinilai masih menjadi penyangga utama.

Investor kini menunggu data ekonomi terbaru serta sinyal kebijakan dari bank sentral global untuk menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.