CIMAHI, NyaringIndonesia.com – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cimahi kembali menjadi sorotan setelah puluhan siswa dari berbagai jenjang pendidikan dilaporkan mengalami gangguan kesehatan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Insiden ini memunculkan pertanyaan serius mengenai pengawasan mutu dan distribusi makanan dalam program tersebut.
Peristiwa yang terjadi pada Rabu, 25 Februari 2026, membuat sejumlah siswa harus mendapatkan penanganan medis. Data sementara mencatat belasan siswa dari tingkat SD hingga SMP mengalami gejala seperti mual dan muntah. Di SMPN 6 Cimahi, 13 siswa dilaporkan mengeluhkan kondisi serupa, bahkan satu siswa sempat dirawat di IGD RSUD Cibabat.
Salah satu wali murid SMPN 6 Cimahi, Resti (37), warga Cibabat, mengungkapkan bahwa anaknya termasuk di antara siswa yang diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG berupa onigiri.
“Dengan adanya kasus keracunan ini, tentu saja saya sangat khawatir terhadap putri saya,” ujarnya pada Jumat (27/02/26).
Kejadian ini menjadi alarm penting bagi penyelenggara program. Sebagai program yang bertujuan meningkatkan asupan gizi pelajar, MBG seharusnya mengedepankan standar keamanan pangan yang ketat, mulai dari proses produksi, penyimpanan, hingga distribusi makanan ke sekolah.
Resti menambahkan, meskipun anaknya tidak menghabiskan makanan, ia tetap merasakan sakit perut.
“Menu terakhir justru membuat anak-anak kesakitan. Sebagai orang tua, saya berharap program ini tetap baik, tapi pelaksanaannya harus dievaluasi demi keselamatan anak-anak,” tambahnya.
Ia juga menyoroti kondisi makanan yang dikonsumsi anaknya yamg memakan onigiri dalam keadaan perut kosong. Dimanai tekstur dan aroma, nasi terasa lengket dan berbau kurang sedap.
Di sisi lain, wali murid lainnya, Asep (49), menyoroti kualitas menu MBG yang dianggap kurang layak.
“Tak begitu senang, malah jadi tambah takut terjadi keracunan seperti saat ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, anaknya sempat membawa pulang paket MBG tanpa mengecek isinya, dan menemukan telur yang belum matang.
” Langsung dibuang semuanya karena takut ,” kata Asep.
Ia menegaskan, solusi terbaik adalah memberi kepercayaan kepada orang tua untuk menyiapkan makanan bergizi bagi anak-anak mereka sendiri.
“Berilah kesempatan orang tua yang menyiapkan makanan sehat untuk anak-anak,” tambahnya.
Sejumlah orang tua juga menilai urgensi program perlu ditinjau kembali, terutama saat bulan puasa, ketika pola konsumsi siswa berbeda dari hari biasa. Ada pula yang mengusulkan agar pengelolaan asupan gizi diserahkan kepada keluarga masing-masing.
Terlepas dari pro dan kontra, kejadian ini menegaskan bahwa aspek keamanan pangan tidak boleh diabaikan dalam program publik apa pun. Tujuan mulia meningkatkan gizi anak sekolah harus berjalan seiring dengan jaminan kualitas dan keselamatan.
Kini, lanjut Asep, perhatian publik tertuju pada langkah evaluasi dan perbaikan yang akan dilakukan pihak terkait.
“Transparansi hasil pemeriksaan serta perbaikan sistem distribusi menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap program MBG di Cimahi.” tandasnya.
