Investasi Nvidia Bisa Jadi Pemicu, Batam Berpeluang Menjadi ‘Dubai Kecil’ di Sumatera

Prof. Didik J. Rachbini candid2 1 scaled
Ekonom Prof. Didik J. Rachbini
BATAM, NYARINGINDONESIA.COM – Rencana pembangunan Nvidia DSX AI Factory di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam dinilai dapat menjadi momentum penting bagi Batam untuk memperbesar daya tarik investasi global.

Ekonom Prof. Didik J. Rachbini menilai masuknya investor teknologi berskala besar seperti Nvidia berpotensi mendorong investasi di Batam meningkat secara signifikan.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

“Dengan satu investor besar dan signifikan seperti ini, maka investasi Batam bisa baik 2-3 kali lipat,” ujar Didik.

Proyek Nvidia DSX AI Factory tersebut disebut akan melibatkan Firmus Technologies dari Australia dan Day One dari Singapura, dengan target operasional yang dilakukan secara bertahap mulai kuartal pertama 2027 hingga 2028.

Menurut Didik, kehadiran investor kelas dunia dapat menjadi sinyal kuat bagi investor lainnya untuk mengikuti jejak serupa.

“Kuncinya adalah kebijakan investasi. Jika kepala naga sudah masuk dan percaya, maka badan dan ekornya akan segera ikut masuk ke dalam,” katanya.

Tak Cukup Hanya Mengandalkan Hilirisasi

Didik menilai strategi menarik investasi teknologi tinggi perlu berjalan beriringan dengan kebijakan hilirisasi sumber daya alam yang selama ini menjadi salah satu fokus pemerintah.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan kebijakan investasi yang mampu menarik perusahaan teknologi global agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertumpu pada pengolahan sumber daya alam.

“Selain gempita dengan kebijakan mengolah sumber daya alam, kita perlu kebijakan investasi menarik teknologi tinggi seperti Nvidia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Ia melihat Batam memiliki posisi strategis untuk menjadi salah satu pintu masuk investasi teknologi dan modal global ke Indonesia.

Kepastian Hukum Jadi Penentu

Meski memiliki potensi besar, Didik mengingatkan bahwa peluang tersebut harus dibarengi dengan kepastian hukum, regulasi yang jelas, serta iklim usaha yang sehat.

“Dubai dan Timur Tengah yang tidak aman bisa menjadi peluang Batam, sudah layak go global dan sudah ditetapkan layak oleh Nvidia. Nvidia adalah investor global kelas tinggi, bukan investasi PMA kelas kafe dan restoran yang kurang berkualitas. Tinggal pemerintah siap atau tidak melayani minat investor ini,” katanya.

Menurut Didik, Batam telah memiliki sejumlah modal dasar untuk memperkuat posisinya sebagai kawasan investasi internasional. Selain fasilitas Free Trade Zone (FTZ), Batam juga memiliki berbagai insentif yang tersedia di kawasan ekonomi khusus.

Faktor geografis menjadi keunggulan lain. Batam berada sangat dekat dengan Singapura dan berada di kawasan yang terhubung dengan jalur pelayaran internasional.

“Batam bisa menjadi ‘Dubai kecil’ di Sumatera karena sudah memiliki keunggulan sejak keberadaannya, strategis secara geografis, berimpit dengan kota global Singapura, ada di jalur pelayaran internasional,” ujar Didik.

Ia menilai kombinasi antara lokasi strategis, fasilitas perdagangan, insentif investasi, serta potensi masuknya perusahaan teknologi global dapat membuka peluang baru bagi Batam.

“Dengan dinamika yang ada, dalam waktu dekat Batam bisa menjadi pintu masuk modal Timur Tengah dan Asia,” pungkasnya.