Iran, NyaringIndonesia.com – Iran mengancam akan “membakar” kapal-kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak tersibuk dan terpenting di dunia. Ancaman ini muncul setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dalam beberapa hari terakhir.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Jenderal Sardar Jabbari menyatakan Teheran “tidak akan membiarkan setetes minyak pun meninggalkan wilayah tersebut”. Jika ancaman ini terealisasi, dampaknya diperkirakan sangat besar terhadap harga energi dan ekonomi global.
20% Pasokan Energi Dunia Lewat Jalur Ini
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Letaknya berada di utara Iran serta di selatan Oman dan Uni Emirat Arab.
Lebarnya sekitar 50 kilometer di pintu masuk dan menyempit hingga 33 kilometer di titik tersempit. Meski relatif sempit, jalur ini mampu dilalui kapal tanker minyak terbesar di dunia.
Sekitar 20% pasokan minyak dan gas global setara 20 juta barel per hari pada 2025 melewati selat ini. Berdasarkan perkiraan Energy Information Administration (EIA), nilai perdagangan energi yang melintasi jalur tersebut mencapai hampir US$600 miliar per tahun.
Minyak yang lewat tidak hanya berasal dari Iran, tetapi juga dari Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Dampak Langsung: Harga dan Biaya Pengiriman Naik
Ancaman Iran telah memicu lonjakan harga minyak. Per Senin (2/3), harga minyak mentah Brent sempat menyentuh US$82 per barel.
Tiga kapal diserang di dekat Selat Hormuz akhir pekan lalu, menyebabkan sekitar 150 kapal tanker tertahan, menurut Reuters.
Data dari London Stock Exchange Group menunjukkan biaya sewa kapal tanker raksasa dari Timur Tengah ke China melonjak hampir dua kali lipat menjadi lebih dari US$400.000 per perjalanan rekor tertinggi.
Analis Global Risk Management, Arne Lohmann Rasmussen, mengatakan meski belum ada blokade fisik, ancaman serangan sudah cukup membuat kapal enggan melintas.
“Secara de facto, selat tersebut tertutup karena tidak ada yang berani melintasinya,” ujarnya kepada CBS News.
Tanpa asuransi atau dengan premi yang sangat mahal, kapal-kapal memilih menunggu hingga situasi membaik.
Asia Paling Terdampak
Sebagian besar minyak yang keluar dari Selat Hormuz ditujukan ke Asia. Pada 2022, sekitar 82% ekspor minyak mentah dan kondensat melalui jalur ini dikirim ke negara-negara Asia.
China, India, dan Jepang merupakan importir utama. China sendiri diperkirakan membeli sekitar 90% minyak ekspor Iran. Kenaikan harga minyak akan berdampak pada biaya produksi dan harga barang yang diekspor China ke pasar global.
Dengan demikian, konsumen di berbagai negara berpotensi merasakan dampak langsung melalui kenaikan harga barang.
Bagaimana Iran Bisa Memblokir Selat?
Secara hukum internasional, negara berhak mengontrol perairan teritorial hingga 12 mil laut dari garis pantainya. Di titik tersempit, Selat Hormuz berada dalam wilayah perairan Iran dan Oman.
Para ahli menilai Iran dapat memblokir selat dengan menanam ranjau laut menggunakan kapal cepat atau kapal selam. Selain itu, Angkatan Laut Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dapat melancarkan serangan rudal anti-kapal.
Namun langkah tersebut berisiko memicu respons militer Amerika Serikat. Dalam sejarahnya, AS pernah mengawal kapal tanker di Teluk Persia pada akhir 1980-an saat “perang tanker” dalam konflik Iran-Irak.
Apakah Ada Jalur Alternatif?
Ancaman penutupan Selat Hormuz telah mendorong negara-negara Teluk mengembangkan jalur alternatif.
Arab Saudi memiliki pipa minyak sepanjang 1.200 km dengan kapasitas hingga 5 juta barel per hari. Uni Emirat Arab juga memiliki pipa menuju pelabuhan Fujairah dengan kapasitas minimal 1,5 juta barel per hari.
Namun, menurut laporan Reuters, meski jalur alternatif digunakan secara maksimal, tetap akan terjadi kekurangan pasokan global sebesar 8–10 juta barel per hari jika Selat Hormuz benar-benar tertutup.
Dampak Global
Penutupan Selat Hormuz tidak hanya merugikan negara importir seperti China dan India, tetapi juga negara-negara Teluk yang sangat bergantung pada ekspor energi.
Dengan volume perdagangan energi yang begitu besar, gangguan di selat ini berpotensi mendorong inflasi global, meningkatkan biaya logistik, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.
Situasi ini menjadikan Selat Hormuz sebagai salah satu titik geopolitik paling krusial yang dapat memengaruhi stabilitas pasar energi global dalam waktu singkat.
=======================
Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.
Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News
