Iran Buka Akses Terbatas Selat Hormuz untuk Negara Sahabat, Kapal Pertamina Masih Tertahan

1774414296346 1

Jalur Energi Global Jadi Instrumen Tekanan Geopolitik di Tengah Konflik Timur Tengah

Iran, NyaringIndonesia.com – Pemerintah Iran membuka akses pelayaran terbatas di Selat Hormuz bagi sejumlah negara yang dianggap memiliki hubungan diplomatik baik, di tengah meningkatnya ketegangan konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Sejumlah kapal tanker minyak dari Malaysia, Thailand, China, Rusia, Pakistan, hingga Irak kini diperbolehkan melintas di jalur strategis tersebut oleh Teheran. Kebijakan ini dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan faktor politik dan keamanan.

Laporan The Guardian  menyebutkan bahwa Iran menjadikan hubungan diplomatik sebagai pertimbangan utama dalam menentukan negara mana yang dapat mengakses jalur distribusi energi global tersebut.

Malaysia Dapat Izin, Setengah Pasokan Minyak Lewat Selat Hormuz

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan para pemimpin Iran, Mesir, Turki, dan sejumlah negara kawasan lainnya terkait situasi di Selat Hormuz.

Ia menyampaikan bahwa kapal-kapal Malaysia kini telah diizinkan melintas setelah adanya komunikasi diplomatik dengan pemerintah Iran.

Dalam pidato yang disiarkan melalui televisi nasional, Anwar menyampaikan apresiasi kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas izin tersebut.

“Kami saat ini sedang dalam proses membebaskan kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang,” ujar Anwar.

Meski dikenal sebagai negara penghasil minyak, Malaysia tetap bergantung pada jalur Selat Hormuz untuk distribusi energi. Sekitar 50 persen kebutuhan minyak nasional negara tersebut diangkut melalui jalur perairan strategis tersebut.

Anwar menegaskan bahwa situasi blokade di Selat Hormuz serta gangguan pasokan energi memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi negaranya.

Iran Gunakan Selat Hormuz sebagai Alat Tekanan Geopolitik

Kebijakan akses pelayaran selektif yang diterapkan Iran dinilai menandai perubahan fungsi Selat Hormuz, dari sekadar jalur perdagangan internasional menjadi instrumen tekanan geopolitik.

Iran memanfaatkan kontrol atas jalur tersebut untuk memperkuat posisi tawar terhadap negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.

Sejumlah kapal kargo dan tanker minyak berukuran kecil dari Thailand dan China dilaporkan telah berhasil melintas sejak Iran secara efektif membatasi jalur perdagangan sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Thailand dan China Sudah Melintas, Ada yang Tanpa Biaya

Awal pekan ini, sebuah kapal tanker minyak milik Thailand dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman setelah koordinasi diplomatik antara pemerintah Thailand dan Iran.

Seorang pejabat Thailand menyatakan kapal tersebut tidak diwajibkan membayar biaya tambahan untuk melewati blokade.

Tanker milik perusahaan energi Thailand Bangchak Corporation melintasi selat tersebut setelah pembicaraan antara Menteri Luar Negeri Thailand dan perwakilan diplomatik Iran.

Selain itu, dua kapal pengangkut gas petroleum cair (LPG) yang terkait dengan China juga dilaporkan telah melewati Selat Hormuz.

Namun, sebuah kapal kontainer China bernama Newvoyager disebutkan berhasil melintas setelah melakukan pembayaran kepada otoritas Iran.

Iran Tegaskan Hanya Negara Sahabat yang Diizinkan Melintas

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya hanya memberikan izin pelayaran kepada negara-negara yang dianggap sebagai mitra atau sahabat.

Ia menyebut negara-negara yang telah diizinkan melintas di antaranya China, Rusia, India, Irak, dan Pakistan.

“Untuk beberapa negara yang kami identifikasi sebagai teman kami, kami mengizinkan jalur melalui Selat Hormuz. Tidak ada alasan bagi kami untuk mengizinkan musuh kami melewati Selat Hormuz,” kata Araghchi.

Dua Kapal Pertamina Masih Tertahan, Diplomasi Terus Dilakukan

Di sisi lain, dua kapal milik PT Pertamina hingga kini masih tertahan di Selat Hormuz sejak beberapa pekan terakhir.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan masih terus melakukan pendekatan diplomatik secara intensif dengan pemerintah Iran untuk memastikan kapal tersebut dapat melanjutkan perjalanan dengan aman.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang menegaskan bahwa keselamatan awak kapal dan kelancaran distribusi energi menjadi prioritas utama pemerintah.

Ia menyebut Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran terus berkoordinasi dengan otoritas Iran guna memastikan dua kapal, yakni Gamsunoro dan Pertamina Pride, dapat segera keluar dari wilayah Selat Hormuz.

Pemerintah Indonesia juga mendorong semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk menahan diri dan menghentikan serangan, mengingat pentingnya kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz bagi stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.

======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News