Iran Terapkan Tarif 2 Juta Dolar untuk Kapal Tanker di Selat Hormuz

1774414296346
Kebijakan baru Teheran disebut sebagai langkah memperkuat kontrol atas jalur energi strategis sekaligus menutup biaya perang di tengah eskalasi konflik.

Iran, NyaringIndonesia.com – Anggota parlemen Iran, Alaeddin Boroujerdi, mengungkapkan bahwa Teheran mulai memberlakukan tarif sebesar 2 juta dolar AS bagi setiap kapal tanker yang melintas di jalur strategis Selat Hormuz.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Kebijakan tersebut dilaporkan sebagai bagian dari upaya Iran memperkuat kontrol dan kedaulatan atas salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.
Boroujerdi menyebut kebijakan itu sebagai simbol kekuatan Iran sekaligus konsekuensi dari situasi perang yang sedang berlangsung.

“Penarikan biaya transit sebesar 2 juta dolar AS bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz mencerminkan kekuatan Iran. Perang memiliki ongkos,” ujarnya dalam wawancara dengan media pemerintah Iran.

Ia juga menambahkan bahwa penerapan tarif tersebut merupakan bentuk penegasan kontrol Iran setelah ketegangan meningkat akibat serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

Laporan mengenai kebijakan ini tidak hanya muncul di media Iran, tetapi juga diberitakan sejumlah media internasional. Disebutkan bahwa Iran mulai menerapkan sistem pembayaran tidak resmi bagi kapal tanker yang ingin melintas dengan aman di Selat Hormuz, meski mekanisme teknis pembayaran, termasuk mata uang yang digunakan, masih belum dijelaskan secara rinci.

Sejumlah pejabat Iran menyatakan bahwa kebijakan tarif tersebut merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk menutup biaya finansial akibat eskalasi konflik militer dan gangguan keamanan maritim. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap dibuka, namun hanya bagi negara-negara yang dianggap bersahabat.

Saat ini, Iran masih mengizinkan kapal dari negara yang tidak terlibat dalam konflik untuk melintas, sementara membatasi kapal yang terkait dengan negara yang dianggap terlibat dalam serangan terhadap Iran. Hingga kini, setidaknya lima negara telah berkoordinasi langsung dengan otoritas Iran untuk memastikan jalur pelayaran tetap aman, yakni China, India, Turki, Pakistan, dan Thailand.

Di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, seorang akademisi asal China turut menarik perhatian publik karena analisis dan prediksinya yang viral di internet. Sosok tersebut adalah Xueqin Jiang, yang dikenal aktif membagikan prediksi geopolitik melalui kanal YouTube miliknya, Predictive History.

Dalam salah satu analisanya, Jiang memprediksi Iran akan memenangkan konflik dan kemudian menuntut pembayaran reparasi perang dari Amerika Serikat dan Israel. Menurutnya, dana reparasi tersebut, ditambah pendapatan dari tarif pelayaran di Selat Hormuz, berpotensi menjadi sumber pembiayaan besar bagi pemulihan ekonomi Iran.

Ia bahkan memperkirakan bahwa jika skenario tersebut terjadi, Iran dapat mengalami lonjakan pertumbuhan ekonomi dalam waktu relatif singkat.
Jiang menyebut kemungkinan munculnya “keajaiban ekonomi” dalam rentang lima hingga sepuluh tahun, yang dapat mendorong industrialisasi cepat dan meningkatkan posisi Iran di panggung global.

 

======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News