IRGC : Iran Siap Hadapi Konfilik Panjang

1772787689633

Iran, NyaringIndonesia.com – Iran menyatakan kesiapannya menghadapi konflik jangka panjang serta berencana menggunakan berbagai sistem persenjataan modern yang sebelumnya belum pernah dikerahkan dalam perang yang sedang berlangsung. Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Dalam keterangannya, Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini menegaskan bahwa negara-negara yang memusuhi Iran akan menghadapi serangan balasan yang jauh lebih kuat pada tahap berikutnya. Ia menyebutkan bahwa Iran tengah menyiapkan inisiatif baru di bidang militer, termasuk teknologi persenjataan yang hingga kini belum digunakan secara luas dalam konflik.

Menurut Naeini, kesiapan Iran saat ini jauh lebih baik dibandingkan saat menghadapi perang singkat selama 12 hari pada tahun sebelumnya yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Ia juga menggambarkan konflik yang sedang berlangsung sebagai perjuangan yang dianggap sah oleh pihak Iran.

Di sisi lain, laporan dari The Guardian menyebutkan bahwa kelompok milisi yang memiliki hubungan dengan Iran di berbagai wilayah Timur Tengah terus meningkatkan intensitas serangan terhadap Israel, Amerika Serikat, serta sekutu mereka. Serangan tersebut disebut sebagai respons terhadap operasi militer gabungan Washington dan Tel Aviv terhadap Teheran.

Konflik yang terjadi kini melibatkan lebih banyak kelompok bersenjata, sehingga berpotensi memperluas kekacauan dan meningkatkan tingkat kekerasan di kawasan. Israel dan Amerika Serikat sendiri menargetkan jaringan militan yang didukung Iran, dengan Irak menjadi salah satu wilayah utama dalam konfrontasi terbaru ini.

Sejak perang dimulai pada hari Sabtu, berbagai milisi di Irak telah melakukan puluhan serangan. Sasaran mereka tidak hanya Israel, tetapi juga pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania dan wilayah Irak sendiri. Dalam beberapa hari terakhir, kelompok-kelompok tersebut juga menyerang fasilitas milik oposisi Kurdi Iran yang berada di wilayah utara Irak yang didominasi komunitas Kurdi dan memiliki pemerintahan otonom.

Untuk mengurangi kekuatan milisi pro-Iran di Irak, Israel dan Amerika Serikat melakukan serangan udara serta operasi pasukan khusus di darat. Hal ini diungkapkan oleh sejumlah analis dan mantan pejabat intelijen kawasan yang memahami situasi tersebut.

Sejak invasi yang dipimpin Amerika Serikat pada tahun 2003, Irak memang sering menjadi arena persaingan tidak langsung antara Amerika Serikat, sekutunya, dan Iran. Meski demikian, pemerintah Irak saat ini berusaha menghindari keterlibatan langsung dalam konflik terbaru tersebut.

Sebagian besar anggota milisi yang berpihak pada Iran direkrut dari komunitas Syiah yang merupakan mayoritas di Irak. Kelompok-kelompok ini diketahui beroperasi dengan arahan dari pejabat senior IRGC Iran.

Pada hari Selasa, sebagai indikasi meningkatnya konflik proksi di kawasan, sejumlah pejabat di Washington memberi sinyal bahwa mereka tengah mempertimbangkan untuk melibatkan kelompok Kurdi Iran. Namun, sejumlah tokoh Kurdi menolak gagasan tersebut.

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah kelompok bersenjata yang didukung Iran mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Bandara Internasional Erbil di Irak utara. Drone dan rudal dilaporkan diluncurkan dari wilayah gurun di barat Iran menuju target di Yordania, sementara milisi di wilayah selatan juga menembakkan rudal ke arah Kuwait.

Pada Kamis, kelompok-kelompok milisi tersebut mengeluarkan pernyataan bersama yang meminta negara-negara Eropa untuk tidak ikut terlibat dalam perang yang sedang berlangsung.

Media pemerintah Irak juga melaporkan bahwa aparat keamanan berhasil menggagalkan upaya peluncuran rudal dari wilayah Provinsi Basra di Irak selatan yang diduga ditujukan ke negara tetangga. Dalam operasi tersebut, pasukan keamanan menyita peluncur rudal bergerak yang membawa dua rudal siap tembak.

Sementara itu, juru bicara militer Israel pada Rabu malam mengonfirmasi adanya peluncuran drone dari wilayah Irak menuju Israel, meskipun jumlahnya tidak besar.

Analis Irak dari perusahaan konsultan strategis Horizon Engage, Michael Knights, menilai bahwa kelompok milisi yang didukung Iran di Irak sedang berupaya mempertahankan pengaruh mereka. Selain itu, mereka juga mencari cara untuk merespons terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

 

 

=======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News