CIMAHI, NYARINGIMDONESIA.COM – Banyak pemilik mobil masih beranggapan bahwa saat hanya membeli dua ban baru, posisi terbaik adalah di roda depan. Alasannya cukup sederhana, roda depan dianggap memiliki tugas paling berat karena berfungsi mengendalikan arah kendaraan sekaligus menjadi penggerak utama pada mobil berpenggerak roda depan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Namun, anggapan tersebut ternyata tidak sesuai dengan rekomendasi para produsen ban dunia. Justru, ban baru sebaiknya dipasang pada poros roda belakang, terlepas dari apakah mobil menggunakan sistem penggerak roda depan, belakang, maupun semua roda.
Rekomendasi ini bukan tanpa alasan. Penempatan ban baru di bagian belakang berperan penting dalam menjaga stabilitas kendaraan, terutama ketika melintas di jalan yang basah atau tergenang air.
Saat hujan, ban yang sudah aus memiliki kemampuan lebih rendah dalam membuang air. Akibatnya, ban lebih mudah mengalami aquaplaning, yaitu kondisi ketika ban kehilangan kontak dengan permukaan jalan karena mengambang di atas lapisan air.
Risiko paling berbahaya muncul apabila ban yang aus berada di roda belakang. Ketika kehilangan traksi, bagian belakang mobil dapat bergerak liar atau membuang ke samping hingga memicu oversteer. Kondisi ini sering kali sulit dikendalikan, bahkan oleh pengemudi yang berpengalaman, karena kendaraan bisa berputar dalam waktu singkat.
Karena itu, menjaga daya cengkeram roda belakang menjadi faktor penting untuk mempertahankan kestabilan mobil, khususnya saat melakukan manuver di jalan licin.
Sebaliknya, apabila ban yang mulai menipis ditempatkan di roda depan, kendaraan cenderung mengalami understeer ketika kehilangan traksi. Gejalanya berupa mobil yang terus melaju lurus meski kemudi sudah diputar.
Meski tetap berpotensi membahayakan, understeer umumnya lebih mudah diatasi dibanding oversteer. Pengemudi cukup mengurangi tekanan pada pedal gas secara bertahap tanpa melakukan pengereman mendadak. Saat kecepatan turun, beban kendaraan akan bergeser ke roda depan sehingga ban dapat kembali memperoleh daya cengkeram.
Untuk alasan tersebut, para ahli menyarankan agar penggantian dua ban dilakukan dengan pola rotasi yang benar. Ban lama yang sebelumnya berada di belakang dipindahkan ke roda depan, sedangkan dua ban baru dipasang di poros belakang.
Metode ini memastikan roda belakang selalu menggunakan ban dengan alur tapak paling baik sehingga kemampuan membuang air tetap optimal dan risiko kehilangan kendali dapat diminimalkan.
Menerapkan prosedur tersebut tidak hanya membuat umur ban lebih seimbang, tetapi juga meningkatkan keselamatan berkendara, terutama saat menghadapi hujan deras, jalan licin, maupun kondisi darurat yang membutuhkan stabilitas kendaraan secara maksimal.
======================
Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.
Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News

