Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) Jawa Barat, Faisal Haris, berkomitmen meningkatkan kompetensi dan profesionalisme wartawan melalui pendidikan jurnalistik, sertifikasi kompetensi, serta penguatan pemahaman terhadap kode etik dan hukum pers.
Bandung, NyaringIndonesia.com – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) Jawa Barat, Faisal Haris, berkomitmen meningkatkan kompetensi dan profesionalisme wartawan melalui pendidikan jurnalistik, sertifikasi kompetensi, serta penguatan pemahaman terhadap kode etik dan hukum pers.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Komitmen tersebut disampaikan Faisal setelah terpilih sebagai Ketua DPW JWI Jawa Barat periode 2026–2031 dalam agenda pemilihan kepengurusan yang berlangsung di Hotel Astika, Jakarta Barat, Jum’at (21/08/26).
Faisal mengatakan, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu prioritas dalam kepemimpinannya. Menurut dia, wartawan tidak cukup hanya menguasai kemampuan menulis dan mencari informasi, tetapi juga harus memahami tanggung jawab profesi.
“Kami akan membangun organisasi yang berorientasi pada peningkatan kompetensi, profesionalisme, etika jurnalistik, serta perlindungan terhadap wartawan dalam menjalankan tugas,” ujar Faisal.
Ia menjelaskan, JWI Jawa Barat akan mendorong anggotanya mengikuti berbagai program peningkatan kapasitas, termasuk pendidikan jurnalistik dan sertifikasi kompetensi. Langkah tersebut dinilai penting agar setiap wartawan memiliki standar kemampuan yang jelas dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Selain kemampuan teknis, Faisal menekankan pentingnya pemahaman terhadap Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Wartawan juga dituntut memahami prinsip verifikasi, keberimbangan, independensi, hak jawab, hak koreksi, serta asas praduga tak bersalah.
“Kecepatan dalam memberitakan tidak boleh mengalahkan akurasi. Kami ingin wartawan JWI Jawa Barat memiliki kompetensi dan sertifikasi yang baik sehingga setiap pemberitaan tetap berada dalam koridor etika jurnalistik dan ketentuan hukum yang berlaku,” katanya.
Menurut Faisal, penerapan kode etik menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pers. Karena itu, wartawan harus mampu menghasilkan berita yang akurat dan berimbang, melakukan verifikasi informasi, menjaga independensi, serta tidak mencampurkan fakta dengan opini yang bersifat menghakimi.
Selain peningkatan kompetensi, Faisal juga menjadikan perlindungan profesi wartawan sebagai salah satu agenda kepemimpinannya. Ia menilai kebebasan pers merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi yang harus dijalankan secara profesional dan bertanggung jawab.
“JWI harus hadir ketika rekan-rekan media menghadapi persoalan dalam menjalankan tugas jurnalistik. Kami akan mendorong mekanisme konsultasi, pendampingan, dan perlindungan profesi bagi anggota yang menjalankan tugasnya secara benar,” tegasnya.
Meski demikian, Faisal menegaskan bahwa perlindungan terhadap wartawan bukan berarti organisasi membenarkan setiap tindakan anggotanya.
“Kami akan melindungi wartawan dalam menjalankan fungsi jurnalistiknya. Namun, pada saat yang sama, anggota juga harus memahami dan menaati kode etik. Kebebasan pers harus berjalan bersama tanggung jawab,” ujarnya.
Untuk mewujudkan komitmen tersebut, DPW JWI Jawa Barat periode 2026–2031 akan diarahkan pada penguatan organisasi melalui pengembangan sumber daya manusia, pendidikan jurnalistik, sertifikasi kompetensi, literasi hukum dan etika, serta pendampingan profesi.
Faisal berharap kepengurusan JWI Jawa Barat dapat memberikan manfaat bagi wartawan sekaligus masyarakat dengan menghadirkan produk jurnalistik yang akurat, berimbang, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Saya berharap JWI Jawa Barat periode 2026–2031 dapat menjadi organisasi yang memberikan manfaat nyata bagi wartawan dan masyarakat,” pungkasnya.(Bzo)

