CIMAHI, NyaringIndonesia.com – Momentum berdekatan antara Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri tahun ini tidak hanya dipandang sebagai potensi tantangan, tetapi juga peluang nyata untuk menunjukkan kedewasaan sosial masyarakat dalam merawat toleransi.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Di tengah perbedaan tradisi yang cukup kontras, masyarakat dihadapkan pada kebutuhan untuk saling menyesuaikan diri. Di satu sisi, umat Hindu menjalani Nyepi dengan suasana hening melalui Catur Brata Penyepian.
Di sisi lain, umat Muslim merayakan Idul Fitri dengan berbagai aktivitas yang sarat kebersamaan seperti takbiran dan silaturahmi.
Dalam situasi ini, Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Cimahi justru melihat adanya ruang untuk memperkuat praktik toleransi secara konkret, bukan sekadar wacana.
Wakil Ketua FKUB Cimahi, Subarna menilai, kondisi seperti ini menuntut kematangan sikap dari seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, harmoni tidak akan terwujud tanpa adanya kesadaran kolektif untuk saling menghormati.
” Masyarakat perlu memahami perbedaan karakter masing-masing perayaan agar tak terjadi kesalahpahaman. Ini bukan sekadar soal perbedaan, tetapi bagaimana kita menyikapi perbedaan itu dengan bijak.” ujar Subarna. Selasa (17/03/26).
Dari sudut pandang umat Hindu, kesiapan lingkungan sekitar menjadi faktor penting agar ibadah Nyepi dapat berlangsung khusyuk. Wakil Ketua Pura Agung Wira Loka Natha, Putu Yasa menilai, harmoni sosial tak cukup hanya diatur, tetapi harus tumbuh dari kesadaran bersama.
” Masyarakat Indonesia sejatinya telah memiliki fondasi kuat dalam menjaga keberagaman, sehingga kondisi ini seharusnya tak menjadi sumber konflik.” tegasnya.
Menurutnya, Koordinasi lintas pihak pun menjadi kunci. FKUB mendorong komunikasi aktif antara tokoh agama, pemerintah daerah, dan masyarakat guna mengantisipasi potensi gesekan sejak awal.
” Pertemuan dua momen besar keagamaan ini justru menjadi cerminan bagi kita, sejauh mana nilai toleransi benar-benar dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.” tambahnya.
Di Cimahi, kehidupan berdampingan di tengah perbedaan bukan hal baru. Karena itu, situasi tahun ini diharapkan menjadi penguat bahwa keberagaman dapat dikelola menjadi kekuatan sosial.
” Pada akhirnya, perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dirawat sebagai bagian dari kebersamaan yang utuh” tandasnya.(Bzo)

