Ketua BUMDes Desa Cilangkap, Ahmad,
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!PURWAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Jangan buru-buru menganggap barang bekas sebagai sesuatu yang tak lagi berguna. Di Desa Cilangkap, Kecamatan Babakancikao, Kabupaten Purwakarta, barang sisa dari pabrik justru mendapat kehidupan baru.
Di tangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Cilangkap, material bekas yang masih layak pakai disulap menjadi bagian interior kantor. Hasilnya, kantor BUMDes tak sekadar menjadi tempat menjalankan roda usaha, tetapi juga berubah menjadi ruang pelayanan dan konsultasi bagi masyarakat.
Ketua BUMDes Desa Cilangkap, Ahmad, mengatakan konsep tersebut sengaja dibuat agar kantor BUMDes memiliki fungsi yang lebih luas. Hal itu disampaikannya saat menerima kunjungan awak media, Kamis (3/9/2026).
“Kami ingin kantor ini punya nilai lebih. Dari luar tempat usaha, dari dalam jadi tempat warga bertanya dan konsultasi. Bahannya juga kami manfaatkan dari sisa pabrik yang masih bagus,” ujar Ahmad.
Menurut Ahmad, keberadaan BUMDes tidak semestinya hanya berkutat pada aktivitas ekonomi. BUMDes juga harus hadir ketika masyarakat membutuhkan informasi dan pendampingan.
Karena itu, kantor BUMDes Cilangkap membuka layanan konsultasi gratis bagi warga yang mengalami kebingungan dalam mengurus sejumlah kebutuhan administrasi.
Beberapa layanan konsultasi yang tersedia antara lain persoalan pertanahan, perpajakan, pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan, hingga berbagai kebutuhan administrasi lainnya.
“Harapannya warga tidak perlu jauh-jauh atau bingung lagi. Cukup datang ke kantor BUMDes, kami bantu arahkan,” katanya.
Konsep tersebut menjadikan kantor BUMDes bukan sekadar ruang kerja pengurus, melainkan tempat warga datang untuk bertanya, berkonsultasi, sekaligus mencari solusi atas berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Di balik fungsi pelayanannya, mesin usaha BUMDes Cilangkap juga tetap bergerak. Saat ini terdapat empat unit usaha utama yang dijalankan.
Pertama, simpan pinjam dan koperasi yang diarahkan untuk membantu kebutuhan permodalan masyarakat.
Kedua, payment point, yang menyediakan layanan pembayaran listrik, air, BPJS dan berbagai kebutuhan lainnya.
Ketiga, layanan daring untuk memudahkan masyarakat memenuhi sejumlah kebutuhan sehari-hari.
Keempat, empat unit kios atau warung jajanan yang dibangun menggunakan modal BUMDes.
Dengan sejumlah unit usaha tersebut, BUMDes diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan pendapatan, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk ikut bergerak dalam aktivitas ekonomi desa.
Namun, semakin banyak fungsi yang dijalankan, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul pengelola.
BUMDes Cilangkap dituntut mampu menjaga tata kelola usaha secara profesional, mulai dari transparansi keuangan, pengelolaan aset hingga pembagian hasil usaha.
Ahmad pun mengajak masyarakat untuk tidak sekadar menjadi penonton.
“Kami ajak warga ikut aktif. BUMDes ini milik bersama. Kalau dikelola bareng-bareng, manfaatnya pasti kembali ke desa,” tegasnya.
Kisah BUMDes Cilangkap menunjukkan bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan modal besar. Barang bekas pun bisa memiliki nilai baru ketika dikelola dengan gagasan yang tepat.
Kini tantangannya tinggal satu: membuktikan bahwa kantor yang tampil kreatif itu juga mampu menghadirkan manfaat nyata bukan hanya terlihat keren, tetapi benar-benar memudahkan urusan warga dan menggerakkan ekonomi desa. (Dapitt)

