Mahfud MD Tanggapi Pernyataan Prabowo soal Profesor dan Pakar

1790159664948

JAKARTA, NYARINGINDONESIA.COM – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut ada profesor atau pakar yang menjadi “goblok” karena merasa terlalu pintar mendapat tanggapan dari Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Mahfud MD.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Mahfud mengakui bahwa tidak semua profesor maupun pakar memiliki kapasitas yang sama. Namun, ia mengingatkan bahwa pernyataan tersebut tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh profesor di Indonesia.

Menurut Mahfud, jumlah profesor di Indonesia mencapai lebih dari 1.500 orang. Dari jumlah tersebut, ia menilai tentu ada yang memiliki kemampuan di bawah standar. Akan tetapi, kondisi tersebut tidak berarti seluruh profesor dapat disebut demikian.

Mahfud kemudian memberikan perbandingan dengan posisi kepala negara.

“Tetapi tentu tidak semua profesor. Seperti halnya presiden juga banyak yang goblok, kan?” kata Mahfud dalam siniar di kanal YouTube Mahfud MD Official, Rabu (23/9/2026).

Meski melontarkan sindiran tersebut, Mahfud secara eksplisit mengatakan bahwa dirinya tidak menganggap Prabowo sebagai presiden yang “goblok”.

Mahfud bahkan mengakui bahwa Prabowo memiliki wawasan yang cukup luas dalam menjalankan pemerintahan.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap kemampuan Prabowo ketika menyampaikan pidato di forum internasional.

“Di dunia internasional, kadang kala dari sudut bahasa dan orasi dia cukup membanggakan, harus diakui kan? Cukup membanggakan,” ujar Mahfud.

Namun, menurut Mahfud, kemampuan seorang presiden tidak hanya dinilai dari kapasitas berbicara atau menyampaikan gagasan. Etika dalam merespons kritik juga menjadi bagian penting dari kepemimpinan.

Karena itu, Mahfud menilai tidak tepat apabila kepala negara memberikan label negatif kepada pihak yang menyampaikan kritik, termasuk para akademisi dan pakar.

“Enggak layak menurut saya. Seharusnya jangan mengejek orang yang mengkritik. Karena ya tidak etis dari sudut itu,” tegasnya.

Mahfud menyoroti kecenderungan pemerintah yang menurutnya bersikap defensif ketika mendapatkan kritik dari para pakar di dalam negeri.

Ia mengatakan, seorang pemimpin seharusnya tidak perlu melakukan serangan balik ketika mendapat kritik dari masyarakat.

“Nah, ketika masalah itu dikatakan atau dibahas oleh para pakar di dalam negeri, lalu selalu defensif, malah menyerang balik,” kata Mahfud.

Menurut dia, respons terhadap kritik semestinya tidak berubah menjadi serangan personal terhadap pihak yang menyampaikan kritik.

“Kalau defensif itu ya diam saja. Kalau Pak Prabowo kan menyerang balik, bilang profesor goblok, apa goblok,” lanjutnya.

Mahfud juga membandingkan sikap tersebut dengan sejumlah pemimpin negara lain yang menghadapi kritik dari masyarakat tanpa harus membalas dengan serangan verbal kepada pengkritiknya.

Pernyataan yang kemudian dikomentari Mahfud tersebut disampaikan Prabowo ketika menghadiri puncak peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung sejumlah pihak yang disebutnya sebagai pakar. Ia mengkritik pihak yang menurutnya kerap melontarkan tudingan tanpa dasar yang jelas.

Prabowo mengatakan seseorang yang merasa dirinya terlalu pintar justru dapat kehilangan kejernihan dalam melihat persoalan.

“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya jadi goblok. Ini masalahnya di tengah kawan-kawan sejati,” ujar Prabowo.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga mengaitkan pernyataannya dengan latar belakang PAN yang memiliki basis massa keagamaan.

Ia kemudian menyinggung ajaran Islam mengenai fitnah dengan merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 191.

“Tapi benar PAN kan ada basis agamis. Kalau tidak salah ada hadis yang bunyinya fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, surat Al-Baqarah ayat 191,” kata Prabowo.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi perhatian karena disampaikan dalam konteks kritik terhadap pihak-pihak yang mengaku sebagai pakar. Mahfud MD pun memberikan respons dengan menekankan pentingnya etika kepala negara dalam menghadapi kritik, sekaligus mengingatkan bahwa kualitas individu tidak dapat digeneralisasi hanya berdasarkan profesi atau jabatan.

 

==============

Disclaimer:

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News