Hingga Jelang Masa Jabatan Walkot Cimah dan Wakilnya, Imah Seni Belum Terwjud

Hingga Jelang Masa Jabatan Walkot Cimah dan Wakilnya, Imah Seni Belum Terwjud
Illustrasi Imah seni dan gedung kesenian yang belum terpenuhi seperti yang dijanjikan dalam janji Walkot Cimahi dan Wakilnya.

CIMAHI, NyaringIndonesia.com – Dari sejumlah janji politik mantan Wali Kota Cimahi Ajay M Priatna dan Wakilnya Letkol (Purn) Ngatiyana yang kini menjabat sebagai Plt Wali Kota Cimahi, masih ada yang belum terpenuhi salah satunya membangun imah seni dan gedung kesenian.

Kedua bangunan tersebut nantinya dimaksudkan untuk tempat dimana para seniman Kota Cimahi bisa mengpresiasikan bakat dan aktifitas seninya di tempat tersebut.

Namun hingga menjelang akhir periode masa jabatan dan  berakhirnya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Cimahi tahun 2017-2022, kedua bangunan tersebut belum juga terwujud. Sebagai ganti dari janjinya Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi baru bisa menyewa sebuah ruko yang fungsinya hanya sebatas tempat latihan, tempat rapat atau diskusi terbatas dan sekretariat Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC).

Ketua DKKC Kota Cimahi, Hermana HMT, mengatakan, pembangunan Imah Seni tersebut kini kembali mengemuka dan menjadi pembahasan setelah di tetapkan pada Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) ditingkat Kota pada 17 Maret 2022 yang lalu.

BACA JUGA: BRI Cimahi Bantu Masyarakat Yang Terdampak Pandemi Covid-19

“Pasca Musrembang Kota Cimahi 2022, wacana pembangunan Imah Seni atau Gedung Kesenian terus bergulir pada diskusi-diskusi kecil pelaku seni dan budaya Kota Cimahi. Bahkan sampai sekarang terus dibahas di grup WhatsApp Forum Diskusi DKKC,” ujar Hermana pada siaran persnya, Sabtu (3/4/2022).

BACA JUGA:  Walkot Cimahi : Kita Harus Berterima Kasih Kepada Para Pejuang

Menurut Hermana, pembahasan mengerucut pada dua hal yang dianggap penting, diantaranya; pertama seniman/budayawan meminta pada Pemkot Cimahi untuk segera merelaisasikan pembangunan Gedung Kesenian/Budaya pada tahun 2023, dan kedua mengenai tempat pembangunannya seniman/ budayawan merekomendasi beberapa tempat.

“Tempat-tempat yang didiskusikan dan direkomendasikan diantaranya; Plaza Rakyat Pemkot Cimahi, Area Eco Wisata Cimenteng, Area Technopark Cimahi,  Gedung Rio Alun-Alun Cimahi, Tanah Ex Junction Cibeureum, Area Gor LKMD Padasuka, Area Gedung BITC Baros, dan Area Mall Pelayan Publik,” ungkap Hermana.

Dari hasil polling seniman, budayawan dan komunitas mengerucut pada 3 tempat yang dianggap layak didirikan Gedung Kesenian sebagai pusat kegiatan seni dan budaya, yaitu Gedung Rio, Plaza Rakyat Pemkot Cimahi dan Tanah Ex Junction Cibeureum.

BACA JUGA: Banyak Penghuni Rusunawa di Kota Cimahi Tidak Sanggup Membayar Sewa

Hermana pun melihat tiga tempat itu cukup layak untuk dibangun Gedung Kesenian Cimahi. Bahkan ia menyatakan lebih pas adalah Plaza Rakyat Pemkot Cimahi. Tempat itu sejak awal pembangunan komplek Pemkot Cimahi didesain sebagai amphitheater.

“Plaza Rakyat didesain sebagai tempat masyarakat berkegiatan, baik kegiatan seni dan budaya maupun kegiatan lainnya,” tandasnya.

BACA JUGA:  Pemkot Cimahi Lemah Menindak Pelanggar Perda

Lanjut Hermana, Amphiteater Plaza Rakyat yang sudah ada difungsingkan sebagai ruang terbuka kegiatan seni, budaya dan kegiatan lainnya. Sedangkan tempat yang dahulunya lapangan basket dan sekaran menjadi tempat parkir kendaraan roda dua, kawasan sebelah kiri, belakang plaza bisa dibangun Gedung Kesenian Cimahi yang kedap suara.

“Sehingga dalam satu kawasan Plaza Rakyat ada dua tempat kegiatan seni dan budaya, yakni ruang tertutup dan ruang terbuka,” harapnya.

BACA JUGA: PP Kota Cimahi Ingin Kadernya Berani Tampil Pada Pileg 2024

Dalam diskusi  di WAG Forum Diskusi DKKC, beberapa seniman yang pernah berhubungan dengan Walikota pertama Kota Cimahi, Itoch Tochija menyebutkan bawah kawasan Plaza Rakyat memang untuk kegiatan seni dan budaya. Itoch (alm) mendorong para seniman untuk berkegiatan di sana. Bahkan dikawasan itu pernah ada pendopo seni yang sekarang difungsikan menjadi bangunan lain.

“Untuk mendiskusikan pembangunan Gedung Kesenian Cimahi lebih lanjut, dalam waktu dekat ini DKKC berencana mengundang pentolan-pentolan Komunitas seni dan Budaya Kota Cimahi untuk berdiskusi secara langsung, mematangkan diskusi-diskusi di WAG. Hasil rekomendasi dari diskusi ini nantinya diaudensikan dengan DPRD, Bappeda, Disbudparpora, dan perangkat daerah Kota Cimahi lainnya,” jelas Hermana.

BACA JUGA:  Walkot Cimahi Lantik 12 Pimpinan Tinggi Pratama

Perencanaan Perlu Libatkan Partisipasi Publik
Sementara itu Fajar Budhi Wibowo, anggota Dewan Pembina/Penasehat DKKC mengatakan, pembangunan gedung kesenian tidak asal ada, atau asal dibangun, maupun asal terealisasi.

“Untuk itu, dari mulai penentuan tempat, perencanaan, perancangan dan lain sebagainya harus benar-benar melibatkan seluruh unsur masyarakat dalam membuat gagasannya. Terutama masyarakat yang menggeluti kesenian dan kebudayaan. Agar, gedung kesenian yang akan dibangun benar-benar termanfaatkan dengan baik sesuai kebutuhan para penerima manfaatnya dan kenyamanan adalah indikator utama yang harus diperhatikan,” paparnya.

Silahkan Baca Juga :  INDRAMAYU KURANG PUPUK, 10 TON UREA MASUK SECARA ILEGAL
Fajar juga menyebutkan, beberapa wilayah di Jawa Barat sudah memiliki gedung kesenian/budaya, tapi beberapa diantaranya terbengkalai karena tidak sesuai dengan kebutuhannya. Kejadian itu jangan sampai terjadi di Kota Cimahi. Lebih jauh lagi, Fajar menyebutkan bahwa Pemkot Cimahi dapat mengadakan sayembara untuk disainnya dengan melibatkan masyarakat dan para ahli maupun profesional.

“Masyarakat penggiat kebudayaan di kota cimahi memiliki antusiasme yang tinggi untuk terealisasinya program ini. Jadi pembangunan gedung kesenian harus menjadi salah satu prioritas pembangunan di Kota Cimahi,” pungkasnya.***

BERITA TERBARU