Cimahi, NyaringIndonesia.com – Surat kabar Israel Yediot Aharonot mengungkapkan pengakuan badan intelijen Israel atas ketidakmampuan mereka menembus jaringan kepemimpinan Gerakan Perlawanan Palestina, Hamas. Laporan tersebut menyebutkan bahwa penilaian awal Shin Bet menyimpulkan Hamas tidak berniat meningkatkan eskalasi konflik.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Penilaian inilah yang mendorong Israel menarik diri dari Jalur Gaza, disertai rencana untuk memberlakukan blokade total terhadap wilayah kantong Palestina tersebut. Namun, kebijakan itu pada akhirnya gagal meredam pergerakan dan aktivitas perlawanan faksi-faksi Palestina.
“Hal ini mengungkap kegagalan dan kebutaan mendalam yang melanda Shin Bet, intelijen militer, serta seluruh jajaran pemerintahan Israel dalam memahami gerakan perlawanan Palestina,” tulis laporan Yediot Aharonot.
Surat kabar itu juga mengajukan pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin Israel mampu merekrut agen di Iran yang berjarak ribuan kilometre namun gagal memahami dinamika yang terjadi hanya sekitar 100 kilometer di selatan Tel Aviv.
Dalam ulasannya, Yediot Aharonot memaparkan sejumlah faktor yang menyebabkan kegagalan Israel menembus kepemimpinan Hamas. Salah satunya justru berkaitan dengan kebijakan pengepungan total Gaza. Penarikan Israel dari Jalur Gaza pada 2005 serta blokade yang diberlakukan kemudian membuat wilayah tersebut sangat terisolasi.
Kondisi ini menjadikan setiap hal baru termasuk kehadiran individu asing mudah teridentifikasi. Gaza, menurut laporan tersebut, dibiarkan tanpa aktivitas ekonomi, pariwisata, maupun hubungan diplomatik, yang lazimnya menjadi jalur masuk bagi operasi intelijen. “Tanpa adanya gesekan, perekrutan agen menjadi sangat sulit,” tulis laporan itu.
Faktor kedua adalah pemahaman Hamas terhadap metode operasi Israel, yang baru disadari sepenuhnya oleh Tel Aviv pada tahap akhir. Hamas dilaporkan menutup jalur infiltrasi melalui darat, laut, dan penyeberangan, serta secara rutin melakukan pembersihan internal terhadap agen-agen Israel.
Faktor lainnya berkaitan dengan arahan kepemimpinan politik Israel, khususnya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Menurut laporan tersebut, Netanyahu menginstruksikan militer untuk menghindari eskalasi di Gaza dan menahan diri dari membunuh para pemimpin Hamas, dengan pertimbangan bahwa serangan pendahuluan akan dianggap sebagai perang yang diprakarsai Israel.
Ironisnya, kebijakan isolasi Gaza yang dimaksudkan sebagai strategi politik dan keamanan justru membuat Israel “buta, tuli, dan lumpuh” dalam menghadapi Hamas, tulis surat kabar itu.
Laporan tersebut juga menyoroti karakter Hamas sebagai organisasi yang tertutup, rahasia, disiplin, dan ideologis, yang menjadikannya sangat sulit ditembus. Yediot Aharonot mengklaim bahwa Shin Bet memang memiliki agen di tingkat rendah, namun hampir tidak satu pun yang memberikan informasi bernilai strategis sebelum 7 Oktober 2023.
Israel, menurut laporan itu, baru menyadari setelah peristiwa tersebut bahwa Hamas merupakan “musuh terberat di Timur Tengah.”
=======================
Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.
Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News