Wali Kota Cimahi mengajak masyarakat belajar dari perjuangan para pahlawan, tidak mudah terpecah oleh perbedaan, serta bersama-sama mengawal pembangunan demi generasi mendatang.
CIMAHI, NYARINGINDONESIA.COM – Mengenang jasa para pahlawan bukan sekadar mengenang sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga menjadi pengingat bagi generasi saat ini tentang betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Hal itu disampaikan Wali Kota Cimahi, Ngatiyana pada peringatan HUT RI ke – 81 di Kampung Pasir Hiris RW 01 Kelurahan Cibeber, Kota Cimahi, Minggu (29/08). Menurutnya, masyarakat Indonesia saat ini patut bersyukur karena dapat menikmati kehidupan yang jauh lebih baik dibandingkan masa penjajahan.
Ia mengingatkan bahwa bangsa Indonesia pernah mengalami masa-masa yang sangat berat ketika berada di bawah penjajahan Belanda dan Jepang.
“Kalau dulu tidak ada para pahlawan, mungkin kita tidak akan bisa seperti sekarang. Bangsa Indonesia pernah mengalami keadaan yang sangat pedih pada masa penjajahan,” ujarnya.
Bahkan, setelah Indonesia merdeka, masyarakat masih harus menghadapi berbagai persoalan. Ia mengaku pernah merasakan sulitnya kehidupan pada era 1964 hingga 1965, ketika untuk mendapatkan beras saja bukan perkara mudah.
“Dulu, sekitar tahun 1964 dan 1965, untuk mendapatkan beras saja sangat susah. Sekarang, kita masih bisa mencari dan beras tersedia di mana-mana. Karena itu, kita harus lebih banyak bersyukur,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui masih ada masyarakat yang merasa belum mendapatkan keadilan secara merata. Persoalan rakyat kecil dan berbagai kesenjangan sosial masih menjadi pekerjaan rumah yang harus terus diperhatikan.

Namun menurutnya, perhatian terhadap masyarakat sangat bergantung pada hati dan kepedulian manusia yang diberi amanah.
“Kalau manusianya punya hati, tentu akan ada perhatian kepada rakyatnya. Tetapi dalam kehidupan, semua itu juga merupakan bagian dari ujian,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung pembangunan Underpass Gatot Subroto yang sempat memicu kemacetan parah di sejumlah ruas jalan di Kota Cimahi.
Pada 19 Agustus lalu, rekayasa lalu lintas akibat pembangunan tersebut membuat sejumlah titik di Kota Cimahi mengalami kemacetan cukup panjang. Kondisi itu pun memicu berbagai keluhan masyarakat, termasuk kritik yang ramai disampaikan melalui media sosial.
Namun, menurutnya, kritik tersebut harus diterima sebagai masukan untuk melakukan evaluasi.
“Kita jangan mudah tersinggung ketika dikritik. Justru kita harus mengucapkan terima kasih, karena artinya mereka memperhatikan kita. Dari kritik itu, kita bisa introspeksi dan berusaha menjadi lebih baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembangunan Underpass Gatot Subroto merupakan kesempatan yang harus dimanfaatkan Kota Cimahi. Karena, anggaran pembangunan yang berasal dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat itu, belum tentu akan ada ditahun berikutnya.
Karena itu, Pemerintah Kota Cimahi berupaya keras menyelesaikan berbagai persoalan, termasuk pembebasan lahan.
Salah satu tantangan terbesar adalah proses pembebasan lahan milik TNI yang dinilai tidak mudah. Namun, melalui berbagai upaya dan komunikasi, persoalan tersebut akhirnya dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua bulan.
Keberhasilan itu membuat Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersedia mengalokasikan anggaran untuk pembangunan di Kota Cimahi.
Nilai anggaran yang berhasil dipertahankan mencapai sekitar Rp150 miliar.
“Kalau saat itu kita tidak berhasil, anggaran sebesar Rp150 miliar bisa saja ditarik kembali oleh provinsi dan dialihkan ke daerah lain. Karena itu, kesempatan ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya,” katanya.
Ia pun meminta masyarakat agar tidak salah memahami pembangunan Underpass Gatot Subroto.
Menurutnya, proyek tersebut bukan untuk kepentingan kelompok tertentu, melainkan untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Kota Cimahi.
“Walaupun kritik di media sosial cukup keras, kami akan menerima dengan sabar dan tawakal. Nanti ketika pembangunan selesai, kita buktikan bersama manfaatnya. Anak cucu kita yang akan menikmati,” ujarnya.
Underpass untuk Mempercepat Akses Darurat
Salah satu alasan penting pembangunan underpass adalah untuk mengatasi persoalan akses kendaraan yang sering terhambat akibat perlintasan kereta api.
Selama ini, kendaraan darurat seperti ambulans berpotensi tertahan ketika kereta api melintas di perlintasan sebidang.
Menurutnya, intensitas perjalanan kereta, termasuk kereta feeder, cukup tinggi sehingga dalam kondisi tertentu kendaraan bisa harus menunggu beberapa menit.
“Bayangkan kalau ada ambulans dalam kondisi darurat, lalu terhalang kereta yang sedang melintas. Ke depan, kita ingin persoalan seperti itu bisa diatasi,” katanya.
Ia menegaskan, kemacetan yang sempat terjadi akibat rekayasa lalu lintas menjadi pelajaran penting bagi pemerintah daerah.
Pemerintah Kota Cimahi, kata dia, telah melakukan evaluasi secara menyeluruh agar pelaksanaan pembangunan dan pengaturan lalu lintas dapat berjalan lebih baik.
“Kemacetan itu memberikan masukan kepada kami. Kita harus melakukan introspeksi dan mencari cara terbaik untuk memperbaiki keadaan,” ujarnya.
Persatuan Jangan Sampai Retak
Selain berbicara mengenai pembangunan, ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga persatuan dan kebersamaan.
Menurutnya, pemerintah tidak akan mampu membangun Kota Cimahi sendirian tanpa dukungan dan partisipasi masyarakat.
“Tidak ada batas di antara kita, tidak ada jarak di antara kita. Semua harus sering berkomunikasi. Pemerintah Kota tidak bisa berbuat banyak tanpa bantuan seluruh warga Kota Cimahi,” katanya.
Ia mengajak masyarakat untuk membangun kekuatan bersama demi kemajuan Kota Cimahi.
Menurutnya, salah satu ancaman terbesar bagi sebuah bangsa bukan selalu datang dari luar, tetapi justru dapat muncul ketika masyarakatnya sendiri mudah terpecah dan saling bermusuhan.
“Musuh yang paling berat terkadang bukan berasal dari luar, tetapi dari bangsa kita sendiri. Sejarah sudah mengajarkan bagaimana perpecahan bisa menjadi kelemahan,” ujarnya.
Karena itu, perbedaan yang ada di tengah masyarakat tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjatuhkan.
Manusia, katanya, memang diciptakan dengan latar belakang, pemikiran, dan karakter yang berbeda. Namun, keberagaman tersebut seharusnya menjadi kekuatan untuk menjaga keutuhan bangsa.
“Kita harus mempertahankan persatuan dan kesatuan agar negara kita tetap berdiri dengan utuh,” tegasnya.
Anak Muda Diingatkan Jauhi Barang Terlarang
Dalam pesannya, ia juga memberikan perhatian khusus kepada generasi muda. Anak-anak muda diminta tidak mudah tergoda oleh barang-barang terlarang yang dapat merusak masa depan.
Ia mengingatkan bahwa generasi muda merupakan penentu arah bangsa Indonesia dalam beberapa dekade mendatang.
“Dua puluh tahun ke depan, kalianlah yang akan memimpin bangsa ini. Karena itu, jangan sampai masa depan kalian hancur karena tergoda barang-barang terlarang,” katanya.
Menurutnya, salah satu cara melemahkan sebuah bangsa adalah dengan merusak generasi mudanya.
Jika anak muda kehilangan masa depan, maka bangsa juga akan menghadapi ancaman serius.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar mewaspadai peredaran berbagai zat dan barang berbahaya yang sering ditawarkan dengan harga murah dan menyasar generasi muda.
“Kalau generasi muda mudah dirusak dan dicekoki barang-barang terlarang, maka celakalah masa depan bangsa. Karena itu, semua harus ikut mengawasi dan melindungi anak-anak muda kita,” ujarnya.
Ia berharap seluruh masyarakat dapat mengambil pelajaran dari perjuangan para pahlawan dan menjadikannya sebagai semangat untuk membangun daerah, menjaga persatuan, serta melindungi generasi penerus.
Sebab, perjuangan membangun bangsa, menurutnya, tidak hanya dilakukan di medan perang, tetapi juga melalui kepedulian, kebersamaan, dan kerja keras untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
==============
Disclaimer:
Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.
Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News

