Metode Micro-Learning mempermudah Warga Cimahi belajar sistem digital guna antisipasi penipuan online
CIMAHI, NyaringIndonesia.com – Diskominfo Kota Cimahi meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman siber dengan memanfaatkan metode micro-learning, yang dirancang agar materi edukasi lebih mudah diterima dan dipahami.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Strategi ini menjadi langkah penting untuk menumbuhkan kesadaran digital di tengah maraknya penipuan online dan pencurian data pribadi.
Kepala Seksi Persandian dan Pengembangan Sumber Daya Telematika, Diskominfo Kota Cimahi, Deni Prayitno, menjelaskan bahwa pendekatan micro-learning menghadirkan konten singkat, padat, dan visual, sehingga masyarakat dapat dengan cepat memahami pola ancaman siber tanpa merasa terbebani informasi.
“Program ini membuat edukasi tidak lagi sekadar larangan ‘jangan klik tautan mencurigakan’, tetapi lebih kepada mengenali tanda-tanda ancaman dan membiasakan refleks digital yang aman,” ujar Deni saat dihubungi pada Senin (30/03/26).
Program #JUMATKAMISAE (Jum’at Keamanan Informasi , Security Awareness Everyweek) menjadi salah satu contoh penerapan micro-learning di Cimahi. Konten edukasi berupa poster, video pendek, dan materi visual lain dibagikan melalui media sosial serta grup WhatsApp, kanal yang paling sering diakses masyarakat.
Selain itu, Diskominfo Cimahi juga menggandeng berbagai pihak melalui pendekatan pentahelix, termasuk komunitas, akademisi, dan aparat penegak hukum, untuk menciptakan ekosistem digital yang aman dan kolaboratif.
“Kami ingin masyarakat dan ASN memiliki kewaspadaan jangka panjang terhadap risiko digital, bukan hanya memahami teori. Micro-learning memungkinkan pesan ini tersampaikan lebih efektif dan berkesan,” jelas Deni.
Deni menegaskan bahwa penguatan literasi digital bukan sekadar program jangka pendek, tetapi proses berkelanjutan. Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi berbagai ancaman di dunia maya.
“Oleh karena itu, edukasi digital yang mudah dipahami, interaktif, dan berbasis micro-learning adalah strategi kami untuk menanamkan refleks pertahanan saat beraktivitas di ranah digital,” tegas Deni (Bzo)

