Narasi Hadis Akhir Zaman Muncul di Tengah Memanasnya Konflik Iran–Israel

1772441841943

Cimahi, NyaringIndonesia.com – Isu konflik antara Iran dan Israel kembali memicu perbincangan luas di media sosial. Di tengah eskalasi geopolitik tersebut, beredar narasi yang mengaitkan ketegangan kedua negara dengan sabda Nabi Muhammad SAW tentang tanda-tanda akhir zaman.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Sejumlah unggahan menyebut Nabi telah berbicara tentang wilayah Persia, Isfahan, dan Khurasan sejak 1.400 tahun lalu. Narasi itu mengutip hadis mengenai kemunculan Dajjal dari arah timur, termasuk riwayat tentang 70.000 orang Yahudi dari Isfahan yang akan mengikuti Dajjal. Riwayat tersebut tercantum dalam Shahih Muslim nomor 2944.

Isfahan sendiri merupakan kota bersejarah di Iran yang kini dikenal sebagai pusat kebudayaan dan industri. Sementara Khurasan dalam literatur klasik Islam bukanlah nama negara modern, melainkan kawasan luas yang mencakup Iran bagian timur, Afghanistan, hingga sebagian Asia Tengah.

Beberapa hadis lain juga menyebut kemunculan “panji-panji hitam dari Khurasan” yang dalam sebagian riwayat dikaitkan dengan kemunculan Imam Mahdi. Riwayat-riwayat tersebut terdapat dalam sejumlah kitab hadis, meskipun kualitas sanad dan penafsirannya menjadi perdebatan panjang di kalangan ulama. Dalam sejumlah ceramah dan konten digital, narasi tersebut kemudian dikaitkan dengan situasi geopolitik Iran saat ini.

Dalam sebuah kajian yang tayang di kanal YouTube Santri Ngaji Online, Adi Hidayat membahas konflik tersebut dari perspektif Al-Qur’an dan sejarah panjang Bani Israil. Ia mengutip Surah Al-Isra ayat 4–7 yang menyebutkan bahwa Bani Israil akan membuat kerusakan di muka bumi sebanyak dua kali dalam skala besar.

Menurutnya, para mufasir klasik hingga kontemporer telah membahas dua fase tersebut sebagai kerusakan berskala luas, bukan sekadar peristiwa lokal. Ia menjelaskan bahwa fase pertama ditandai penyimpangan internal yang berujung pada pembunuhan para nabi, termasuk Nabi Zakaria dan Nabi Yahya, serta upaya pembunuhan terhadap Nabi Isa.

UAH juga mengulas sejumlah fase sejarah yang menimpa Bani Israil, mulai dari era Jalut, serangan Nebukadnezar dari Babilonia, hingga kekuasaan Romawi. Ia menilai pola konflik, pengusiran, dan kehancuran berulang dalam sejarah akibat sikap yang dianggap melampaui batas.

Dalam konteks modern, ia menyinggung munculnya Zionisme dan deklarasi berdirinya Israel pada 1948, yang difasilitasi Inggris. Ia mengaitkan dinamika tersebut dengan konsep tiga penopang kekuatan dalam Al-Qur’an: kekuatan ekonomi (bi amwal), jaringan keturunan dan relasi global (wa banin), serta dukungan luas (aksara nafira).

Meski demikian, ia menekankan pentingnya respons yang dewasa secara spiritual. Ia mencontohkan kepemimpinan Umar bin Khattab dan Salahuddin al-Ayyubi yang menjamin keamanan seluruh komunitas di Yerusalem ketika berada di bawah kekuasaan Islam.

Di tengah kompleksitas geopolitik modern, publik diimbau untuk membedakan antara teks keagamaan, tafsir ulama, dan realitas politik kontemporer. Pendekatan rasional, dialog terbuka, serta sikap damai dinilai penting agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi polarisasi yang merugikan berbagai pihak.

 

=======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News