Nyawang Rasa: Menyatukan Warga Cimahi Lewat Budaya Sunda

IMG 20260328 WA0018 scaled

Paguyuban Pakusunda saat menggelar Nyawang Rasa di Pendopo DPRD Kota Cimahi

CIMAHI, NyaringIndonesia.com – Di tengah derasnya arus modernisasi, Paguyuban Pakusunda Cimahi mencoba menghadirkan ruang untuk berhenti sejenak dan mernghidupkan budaya Sunda.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Pendopo DPRD Cimahi menjadi tempat berkumpulnya warga untuk acara Nyawang Rasa, kegiatan yang lebih dari sekadar pertunjukan, ini tentang berbagi rasa, kebahagiaan, dan kesadaran budaya.

Suasana hangat menyelimuti pendopo, meski langit mendung. Aroma dupa dan menyan berpadu dengan alunan musik tradisional, mengajak pengunjung untuk ikut merasakan ikatan yang lahir dari kebersamaan.

Kang Alit Nurzaelani, Ketua DPC Paguyuban Pakusunda Cimahi, menjelaskan, inti dari Nyawang Rasa adalah menyatukan masyarakat., tetutama generasi muda

“Ini bukan sekadar acara, tapi cara untuk menghimpun kita semua, berbagi perasaan, kegembiraan, dan kesadaran akan budaya kita,” kata Alit saat wawancara pada Sabtu (28/03/26).

Acara ini menghadirkan beragam pertunjukan dari komunitas dan seniman lokal, Tarawangsa, tari-tarian dari Sanggar Seni Dewi Rengganis, Debus dari Uyut Gunung Ringgeung, hingga alat musik bambu dari komunitas 111 Serat Awi. Setiap penampilan bukan hanya tontonan, tapi juga kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal dan mempraktikkan budaya Sunda.

Alit menekankan, kegiatan ini juga cara bagi pemuda untuk kembali merasakan akar budaya mereka.

“Anak-anak muda memiliki potensi besar. Melalui Nyawang Rasa, mereka bisa belajar, bersenang-senang, dan merasakan kebersamaan dalam konteks budaya,” ujarnya.

Selain itu, acara ini menjadi pengingat bahwa budaya bukan sekadar masa lalu, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari yang bisa dijaga dan dinikmati bersama.

Dukungan dari Pemerintah Kota Cimahi membuat kegiatan ini berpeluang berlanjut, diharapkan Nyawang Rasa bisa menjadi momen rutin yang menyatukan masyarakat.

“Budaya itu hidup kalau kita ikut merasakannya bersama. Kalau kita hanya menontonnya dari jauh, rasa itu hilang. Kami ingin semua orang merasakannya, terlibat, dan membawanya pulang ke kehidupan sehari-hari,” tutup Alit. (Bzo)