PARALIMPAIDO 2026, Festival Budaya Inklusif Hadirkan Permainan Tradisional bagi Siswa Disabilitas di Cimahi

IMG 20260531 WA0003

Kolaborasi Pemerintah, Sekolah, dan Pelaku Budaya Wujudkan Pelestarian Kebudayaan untuk Semua

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

CIMAHI, NYARINGINDONESIA.COM – Semangat pelestarian budaya berpadu dengan nilai inklusivitas dalam kegiatan PARALIMPAIDO, Festival Kaulinan Urang Lembur dan Olahraga Tradisional Kamotekaran Disabilitas Se-Kota Cimahi yang digelar di halaman SLBN A Citeureup, Sabtu (30/5).

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 yang didukung oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat.

Festival tersebut mendapat sambutan hangat dan antusias dari para peserta, guru pendamping, serta tamu undangan yang hadir. Sebanyak 45 siswa dari sembilan Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Cimahi mengikuti berbagai permainan rakyat dan olahraga tradisional yang dirancang agar dapat diakses oleh peserta disabilitas.

Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan, di antaranya Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kota Cimahi, Sekretaris DPRD Kota Cimahi, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat, Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Kota Cimahi, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudparpora Kota Cimahi, Kepala Bidang Pemberdayaan DP3APPKB Kota Cimahi, Ketua MKKS Kota Cimahi, serta para kepala sekolah SLB se-Kota Cimahi.

Festival yang diprakarsai oleh Asnawi Patty bersama tim penyelenggara ini menjadi ruang bagi anak-anak disabilitas untuk mengenal, memainkan, sekaligus mewarisi permainan tradisional yang merupakan bagian dari identitas budaya bangsa.

Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya diajak berolahraga dan berinteraksi, tetapi juga memahami nilai-nilai kebersamaan, sportivitas, dan kearifan lokal yang terkandung dalam kaulinan urang lembur.

Menurut penyelenggara, pengenalan permainan tradisional kepada penyandang disabilitas bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan strategi nyata dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif. Kebudayaan dinilai akan tetap hidup apabila diwariskan kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Kegiatan ini juga menjadi implementasi misi yang diusung oleh EtnoSains Nusantara dan Pusat Studi Budaya & Sejarah Sanghyang Hawu, yang menekankan pentingnya pemerataan akses terhadap pemajuan kebudayaan bagi semua kalangan.

Dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat menjadi faktor penting dalam terselenggaranya festival ini. Kepercayaan yang diberikan kepada para pelaku budaya dinilai sebagai bentuk penguatan terhadap upaya pelestarian kebudayaan yang dilakukan secara kolaboratif bersama pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan.

Selain itu, sinergi antara penyelenggara, pihak sekolah, dan pemerintah daerah menjadi kunci sukses pelaksanaan kegiatan. Fasilitas tempat yang disediakan oleh SLBN A Citeureup, serta koordinasi bersama MKKS dan seluruh SLB di Kota Cimahi, menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat menjadi ruang bersama yang terbuka bagi siapa saja.

Mengusung tema “Bermain Bersama Budaya untuk Semua”, PARALIMPAIDO 2026 diharapkan menjadi contoh bahwa warisan budaya tidak mengenal batasan. Festival ini sekaligus menegaskan bahwa pelestarian kebudayaan akan semakin kuat ketika melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, sebagai bagian penting dari pewaris budaya bangsa.