Pelatih Iran Merasa Dikucilkan di Piala Dunia 2026

1782045187734
Merasa Dipersulit di Piala Dunia 2026, Pelatih Iran: Saya Bertanya ke 47 Pelatih, Tak Satu Pun Menjawab

AMERIKA SERIKAT, NYARINGINDONESIA.COM – Amir Ghalenoei mengaku Timnas Iran menghadapi banyak hambatan di luar lapangan, mulai dari persoalan perjalanan lintas negara hingga merasa dikucilkan oleh sesama pelatih peserta Piala Dunia.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Perjalanan Timnas Iran di Piala Dunia 2026 ternyata tidak hanya diwarnai pertarungan sengit di atas lapangan. Di balik laga-laga yang mereka jalani, tersimpan kisah frustrasi dan kekecewaan yang kini mulai diungkap ke publik.

Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, mengaku timnya menghadapi berbagai kesulitan yang menurutnya tidak dialami peserta lain. Bahkan, ia merasa dikucilkan oleh para pelatih peserta Piala Dunia lainnya saat mencoba mencari dukungan maupun solusi atas masalah yang dihadapi Team Melli.

Hubungan politik yang tegang antara Iran dan Amerika Serikat disebut menjadi salah satu penyebab utama rumitnya persiapan tim.

Alih-alih bermarkas di Amerika Serikat seperti mayoritas peserta lainnya, Iran terpaksa menjadikan Tijuana sebagai basis selama turnamen berlangsung. Kondisi tersebut membuat para pemain harus bolak-balik melintasi perbatasan untuk menjalani pertandingan sebelum kembali ke markas mereka di Meksiko.

Situasi itu dinilai menguras energi sekaligus memengaruhi kesiapan tim.

Ghalenoei bahkan mengungkap adanya insiden ketika FIFA berupaya membantu mengatur penerbangan bagi skuad Iran. Namun bantuan yang dijanjikan itu disebut tidak pernah benar-benar terealisasi.

“Kami menunggu sampai pukul tujuh malam dan akhirnya diberi tahu bahwa itu tidak bisa dilakukan,” ungkapnya.

Bukan hanya persoalan logistik yang membuatnya kecewa. Pelatih berusia 62 tahun tersebut juga merasa sendirian di tengah ajang sepak bola terbesar di dunia itu.

Dalam pernyataannya, Ghalenoei mengaku telah mencoba berkomunikasi dengan puluhan pelatih peserta Piala Dunia. Namun respons yang diharapkannya tak pernah datang.

“Saya bertanya kepada 47 pelatih lainnya dan tidak satu pun dari mereka yang menjawab saya,” katanya.

Pengakuan itu langsung menyita perhatian karena menggambarkan bagaimana Iran merasa terisolasi di tengah atmosfer turnamen yang seharusnya menjadi perayaan sepak bola dunia.

Meski demikian, Ghalenoei tidak sepenuhnya menyalahkan rekan-rekan sejawatnya. Ia memahami bahwa setiap pelatih tengah fokus mempersiapkan tim masing-masing untuk bersaing di Piala Dunia.

Namun menurutnya, akar persoalan sebenarnya berada pada penyelenggaraan turnamen yang dinilai tidak mampu memisahkan urusan politik dari sepak bola.

“Keluhan kami berkaitan dengan cara mereka memperlakukan kami,” tegasnya.

Di tengah segala kesulitan itu, Iran tetap berhasil meraih satu poin pada laga perdana Grup G setelah bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru.

Perjuangan Team Melli masih jauh dari selesai. Mereka masih harus menghadapi dua ujian berat di fase grup, yakni melawan Belgia di Los Angeles dan kemudian menghadapi Mesir di Seattle.

Kini, selain berjuang mengejar tiket ke babak berikutnya, Iran juga harus menghadapi tantangan lain yang menurut pelatihnya jauh lebih melelahkan: bertarung melawan situasi di luar lapangan yang terus membayangi langkah mereka sepanjang Piala Dunia 2026.

 

 

======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News