Warga khawatir dampak abrasi dan kerusakan lingkungan akibat tambak udang
Bantan Sari, NyaringIndonesia.com – Rencana pembangunan tambak udang di wilayah pesisir Desa Bantan Sari mendapat penolakan keras dari masyarakat setempat.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Salah satu tokoh masyarakat dari Bantan Sari menegaskan bahwa proyek tersebut dinilai lebih banyak membawa dampak negatif, khususnya terhadap lingkungan.
Ia mengakui bahwa keberadaan tambak udang berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat. Namun demikian, risiko kerusakan lingkungan, terutama abrasi pantai, dianggap jauh lebih besar dan tidak bisa diabaikan.
“Manfaat ekonomi memang ada, tapi ancaman abrasi pantai tidak bisa dihindari,” ujarnya.
Menurutnya, lokasi tambak yang berada sangat dekat dengan garis pantai serta langsung berhadapan dengan Selat Melaka membuat kawasan tersebut semakin rentan terhadap abrasi.
Kondisi ini diperparah dengan hilangnya vegetasi alami yang sebelumnya berfungsi sebagai penahan gelombang, setelah banyak pohon ditebang.
Ia menjelaskan, sebelumnya laju abrasi bisa mencapai 10 hingga 20 meter per tahun meskipun masih terdapat pepohonan. Dengan kondisi saat ini yang minim vegetasi, potensi kerusakan diperkirakan akan semakin parah.
Atas dasar itu, masyarakat secara tegas menyatakan penolakan terhadap proyek pembangunan tambak tersebut dan mendesak pihak berwenang untuk mengevaluasi kembali izin yang telah diberikan.
“Kami menolak pembangunan ini. Kami meminta agar izin tersebut ditinjau ulang, bahkan dicabut,” tegasnya.
Selain ancaman abrasi, ia juga mengingatkan adanya dampak jangka panjang lain yang berpotensi terjadi, seperti kerusakan infrastruktur hingga meningkatnya risiko banjir di kawasan tersebut.
Ia mengungkapkan kekhawatirannya bahwa ke depan jalan bisa terputus, air laut berpotensi masuk ke permukiman dan lahan pertanian, serta memperparah kondisi wilayah yang memang sudah rawan banjir.
“Jika tanah terus digali dan pohon ditebang, saat musim angin utara dan barat gelombang akan semakin kuat. Air laut dan air darat bisa langsung masuk tanpa hambatan,” jelasnya.
Masyarakat pun berharap pemerintah dan pihak terkait tidak hanya melihat dari aspek perizinan semata, tetapi juga turun langsung ke lapangan untuk menyaksikan kondisi sebenarnya.
“Kami berharap pemerintah datang langsung, mendengar aspirasi warga, dan membatalkan rencana pembangunan ini,” pungkasnya. (Tengku)

