Antisipasi krisis energi akibat konflik Timur Tengah tak jadi alasan, pemerintah prioritaskan kualitas pendidikan dan cegah learning loss
Jakarta, NyaringIndonesia.com – Pemerintah memastikan bahwa rencana pembelajaran dalam jaringan (daring) bagi siswa tidak akan diberlakukan. Wacana tersebut sebelumnya sempat muncul sebagai langkah antisipasi terhadap potensi krisis energi akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menegaskan bahwa proses belajar mengajar harus tetap berlangsung normal. Ia menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah serta Menteri Agama untuk memastikan kebijakan ini.
Menurutnya, sektor pendidikan harus terus dioptimalkan agar tidak terjadi learning loss. Oleh karena itu, pembelajaran tatap muka atau luring tetap menjadi prioritas utama saat ini.
Pratikno juga menyampaikan bahwa pembelajaran daring belum menjadi kebutuhan mendesak berdasarkan hasil pembahasan lintas kementerian.
Sebelumnya, pemerintah sempat mempertimbangkan skema pembelajaran hybrid, yakni kombinasi daring dan luring, sebagai langkah mitigasi terhadap dampak konflik global. Namun, rencana tersebut tidak menjadi prioritas saat ini.
Ia menambahkan bahwa Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian besar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan. Berbagai program seperti revitalisasi sekolah, Sekolah Rakyat, dan Sekolah Unggul Garuda menjadi fokus utama pemerintah.
Pemerintah pun berkomitmen untuk mempercepat peningkatan mutu pendidikan secara menyeluruh di bawah koordinasi berbagai kementerian terkait, menjadikannya sebagai prioritas utama nasional.

