Pemerintah Berencana Tambah Subsidi Untuk Cegah Lonjakan BBM

Pertamina gas station at sunset

Jakarta, NyaringIndonesia.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah berencana menambah porsi anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) guna menjaga harga BBM subsidi tetap stabil di tengah kenaikan harga minyak dunia.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Kebijakan tersebut dipertimbangkan menyusul meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang memicu gangguan pasokan minyak global, termasuk setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Konflik yang terjadi sejak akhir Februari itu membuat harga minyak dunia berfluktuasi tajam. Pekan lalu harga sempat menyentuh sekitar 120 dolar AS per barel sebelum kembali turun. Namun, seiring meningkatnya eskalasi konflik, harga kembali terdorong naik. Pada perdagangan siang hari, harga minyak Brent crude oil tercatat mencapai sekitar 100,52 dolar AS per barel.

“Negara akan hadir dengan cara menambah anggaran subsidi,” ujar Bahlil dalam siniar Bukan Abuleke yang ditayangkan di kanal YouTube Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Kamis (12/3/2026).

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026, asumsi rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel. Meski harga minyak global saat ini telah melampaui 100 dolar AS per barel, Bahlil menilai kondisi tersebut masih dapat ditangani oleh pemerintah.

“Kami juga tetap melihat perkembangan perang. Biasanya ada kepanikan sehingga harga langsung naik, tetapi ada juga periode ketika harga kembali turun,” kata dia.

Selain mempertimbangkan kemampuan fiskal negara, Bahlil menegaskan keputusan mempertahankan harga BBM subsidi juga dilandasi upaya menjaga daya beli masyarakat, terlebih saat ini masyarakat sedang menjalani bulan Ramadan dan bersiap menghadapi Idulfitri.

Ia menambahkan bahwa harga BBM non-subsidi sejak 2022 telah mengikuti mekanisme pasar.

Senada dengan Bahlil, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah masih mengacu pada asumsi ICP dalam APBN yang ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel.

“Belum. Kan APBN kita kemarin di 70 dolar ICP. Jadi kita tunggu saja,” kata Airlangga di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Menurutnya, pemerintah masih mencermati perkembangan konflik global yang berpotensi memengaruhi harga minyak dunia. Durasi perang dinilai akan sangat menentukan dampaknya terhadap perekonomian dan kondisi fiskal Indonesia.

Kenaikan harga minyak mentah berpotensi menambah tekanan terhadap APBN karena meningkatkan kebutuhan subsidi dan kompensasi energi. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor minyak dan gas.

Airlangga menuturkan pemerintah masih menghitung berbagai skenario jika konflik berkepanjangan mendorong harga minyak melampaui asumsi APBN. Meski demikian, hingga saat ini belum ada keputusan untuk menyesuaikan harga BBM subsidi.

Sebelumnya, Airlangga juga menyebut serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berpotensi mendorong kenaikan harga energi global. Namun ia menilai peningkatan pasokan dari Amerika Serikat serta kebijakan produksi dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) masih dapat memengaruhi dinamika harga minyak ke depan.

 

======================

Artikel ini bertujuan untuk memperkaya informasi pembaca. Nyaringindonesia.com mengumpulkan informasi ini dari berbagai sumber relevan dan tidak terpengaruh oleh pihak luar.

Jangan lupa untuk terus mengikuti kami untuk mendapatkan informasi terkini berita Nyaring Indonesia lainnya di Google News