CIMAHI, NyaringIndonesia.com – Di Kota Cimahi, ratusan anak usia sekolah masih menghadapi hambatan besar untuk melanjutkan pendidikan. Meski berbagai program pendidikan telah dijalankan, banyak dari mereka belum kembali ke bangku sekolah formal maupun nonformal.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Beberapa anak yang putus sekolah menyebut berbagai alasan: ada yang memilih membantu orang tua di rumah atau bekerja untuk menopang ekonomi keluarga, ada pula yang belum termotivasi kembali belajar setelah lama meninggalkan sekolah. Dari data terbaru, tercatat sekitar 776 anak belum melanjutkan pendidikan.
“Masih banyak anak yang butuh dorongan dan bimbingan agar bisa kembali bersekolah,” ujar Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, saat menghadiri Forum Perangkat Daerah Dinas Pendidikan, Selasa (10/2/2026).
Ia menekankan bahwa pemerintah berupaya membuka berbagai jalur pendidikan alternatif, termasuk program Paket A, B, dan C untuk anak yang ingin mengejar pendidikan kesetaraan.
Hingga kini, lebih dari 500 anak telah mulai mengikuti program pendidikan kesetaraan, namun sekitar 200 anak masih menunggu kesempatan untuk kembali ke bangku sekolah. Pemerintah bekerja sama dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di seluruh kota, termasuk di wilayah Cipageran, untuk memberikan pembelajaran baik secara daring maupun tatap muka.
Bagi anak-anak yang putus sekolah karena ekonomi, program bantuan operasional pendidikan telah disiapkan, termasuk dana BOP untuk mendukung pendidikan kesetaraan. “Kami berharap semua anak, tanpa terkecuali, bisa menempuh pendidikan,” tegas Ngatiyana.
Plt. Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Cimahi, Juli Suprijadi, menambahkan bahwa faktor penyebab anak putus sekolah beragam. Sebagian enggan kembali bersekolah karena motivasi rendah, sebagian lain karena keterbatasan ekonomi, dan sebagian karena pernikahan dini atau bekerja.
“Data menunjukkan bahwa anak yang tidak melanjutkan sekolah biasanya berasal dari jenjang transisi: lulusan SD yang tidak melanjutkan ke SMP, atau lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke SMA,” jelas Juli.
Menurutnya, pemerintah terus melakukan pendataan menyeluruh dengan melibatkan aparat hingga tingkat RT/RW untuk memastikan tidak ada anak yang terlewat dari sistem pendidikan.
Kisah mereka menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar angka atau data statistik, melainkan tentang masa depan anak-anak dan harapan masyarakat.
” Dengan berbagai program dan dukungan, kini, Kota Cimahi menargetkan agar seluruh anak bisa kembali ke sekolah dan menyelesaikan minimal 12 tahun pendidikan formal.” pungkas Juli. (Bzo)
