Pemkot Cimahi bersama Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) mendorong kegiatan dialog budaya sebagai wadah menggali gagasan sekaligus membangun kepedulian terhadap warisan budaya Sunda.
CIMAHI, NyaringIndonesia.com – Di tengah derasnya arus modernisasi, Pemerintah Kota Cimahi tak ingin budaya lokal sekadar menjadi cerita masa lalu. Salah satu upaya yang didorong adalah menghadirkan identitas budaya Sunda dalam ruang-ruang publik, termasuk melalui penggunaan Aksara Sunda pada nama jalan dan gedung di Kota Cimahi.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Cimahi menjaga budaya lokal agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi muda. Sebab, di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, ketertarikan sebagian anak muda terhadap budaya daerah dinilai masih perlu terus ditumbuhkan.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat ruang dialog dan kolaborasi kebudayaan. Pemkot Cimahi bersama Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) mendorong kegiatan dialog budaya sebagai wadah menggali gagasan sekaligus membangun kepedulian terhadap warisan budaya Sunda.
Wali Kota Cimahi Ngatiyana menegaskan, pelestarian budaya bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi juga memastikan generasi muda mengenal akar budaya dan sejarah daerahnya.
“Dialog budaya ini bagaimana ke depan jangan sampai budaya ini punah. Bagaimana dengan anak-anak kita kalau tidak tahu budaya, tidak tahu sejarah. Saya khawatir ke sana.” tegas Ngatiyana usai hadiri pengukuhan jajaran pengurus DKKC masa bakti 2026-2030. Kegiatan itu juga bertepatan dengan peringatan Hari Aksara Internasional di Aula Gedung B. Jum’at (11/09/26)
Menurutnya, budaya Kota Cimahi dan Jawa Barat, khususnya budaya Sunda, harus tetap hidup dan dikenal oleh generasi penerus.
Salah satu langkah konkret yang telah dilakukan Pemkot Cimahi adalah menggunakan Aksara Sunda pada sejumlah nama jalan dan gedung.
“Salah satu langkah yang sudah kita lakukan untuk mempertahankan budaya di Kota Cimahi yaitu menamai jalan dan nama-nama gedung memakai Aksara Sunda.” ungakapnya.
Ngatiyana mengatakan, ke depan nama jalan yang belum menggunakan Aksara Sunda akan diarahkan untuk turut menampilkan tulisan tersebut. Hal serupa juga akan diterapkan pada gedung-gedung yang ada di Kota Cimahi.
“Bagi yang belum, nanti kita akan jadikan dengan tulisan Sunda agar budaya, terutama Aksara Sunda, tetap lestari.”katanya.
Ngatiyana berharap momentum tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, kecintaan terhadap budaya daerah harus diwujudkan melalui langkah nyata dan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Disbudparpora Kota Cimahi Dani Bastiani mengatakan, pelestarian dan pengembangan kebudayaan merupakan salah satu tugas utama pihaknya sebagai leading sector kebudayaan di Kota Cimahi.
Ia menyebut, keberadaan komunitas dan tokoh penggiat budaya menjadi modal penting untuk memperkuat pelestarian bahasa serta Aksara Sunda.
“Alhamdulillah, untuk komunitas penggiat Aksara Sunda di Cimahi sudah mulai muncul. Dengan tokoh-tokohnya, sudah mulai terlihat,” ujarnya.
Ia mencontohkan kiprah salah satu tokoh budaya Kota Cimahi. Dimana tokoh tersebut telah menghasilkan sejumlah manuskrip berbahasa dan beraksara Sunda. Sedikitnya tujuh manuskrip telah dicetak dan turut dipamerkan dalam kegiatan kebudayaan di Kota Cimahi.
Menurut Dani, kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak untuk menggali potensi dan gagasan kebudayaan yang ada di Kota Cimahi.
Ia berharap kegiatan dialog dan pengembangan kebudayaan tidak berhenti pada satu agenda, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan lebih banyak komunitas dan pegiat budaya.
“Mudah-mudahan kegiatan bukan sampai di sini saja, tapi ke depan bisa berkembang. Mungkin ada teman-teman yang bisa berkolaborasi untuk meningkatkan kebudayaan di Kota Cimahi,” katanya.
Dengan langkah tersebut, Aksara Sunda diharapkan tidak hanya hadir sebagai simbol di ruang publik, tetapi menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
” Hal ini juga pengingat kita, bahwa modernisasi tidak harus menghapus jejak budaya lokal.” pungkasnya. (Bzo)

