Penerbit Erlangga Sulap Braga Jadi Panggung Bahasa dan Seni Lewat Voice Fest

Penerbit Erlangga

BANDUNG, NyaringIndonesia.com – Kawasan ikonik Braga kembali menjadi saksi gelaran Grand Final The Voice Fest at Braga, ajang kompetisi sekaligus perayaan seni yang berlangsung pada 7–8 Februari 2026. Bertempat di De Majestic, Kota Bandung, acara ini menghadirkan tiga kategori lomba, yakni paduan suara (Choir), speech bahasa Inggris, dan speech bahasa Belanda.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

The Voice Fest at Braga tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga ruang temu antara dunia akademik, seni pertunjukan, serta partisipasi publik yang terbuka bagi masyarakat luas.

 

Voice Fest
para pemenang Speech bahasa Belanda dari Universitas Indonesia (UI) beserta juri Atin Handayani

Salah satu juri Speech Competition bahasa Belanda, Dr. Indira Ismail (Ketua Program Studi Bahasa Belanda FIB UI, mengungkapkan bahwa penutur bahasa Belanda di Indonesia masih tergolong terbatas. Bahkan, saat ini hanya terdapat satu program studi bahasa Belanda, yakni di Universitas Indonesia (UI), Depok.

“Acara ini sangat menarik dan luar biasa karena mampu menghimpun penutur bahasa Belanda dari kalangan mahasiswa yang tidak hanya berasal dari Depok,” ujar Indira pada media, Minggu (08/02/26).

Menurutnya, mayoritas peserta telah memiliki kemampuan bahasa Belanda yang baik sehingga menyulitkan juri dalam menentukan pemenang.

“Bahasa Belanda tidak seperti bahasa Inggris, sifatnya sangat tersegmentasi sehingga penilaiannya cukup menantang,” jelasnya.

Adapun kriteria penilaian meliputi penguasaan kosakata, tata bahasa, keefektifan berbicara, serta substansi materi yang disampaikan.

Sementara itu, Angela Merici Reta Perwitasari, mahasiswa Universitas Indonesia yang meraih juara pertama, mengaku awalnya kurang percaya diri melihat kemampuan peserta lain yang dinilai sangat baik. Namun, dukungan dari sesama peserta dan orang tua membantunya membangun kepercayaan diri hingga berhasil meraih juara.

“Saya sudah belajar bahasa Belanda sekitar satu tahun sebelum masuk kuliah. Awalnya hanya iseng ikut Voice Fest, ternyata bisa menjadi juara,” tuturnya.

Peraih juara ketiga, Dinda Syaraya Fitri, juga mahasiswa UI, menilai kompetisi Speech bahasa Belanda dapat meningkatkan minat mahasiswa dalam mempelajari bahasa asing. Ia mendorong generasi muda untuk tidak ragu mengikuti berbagai kompetisi.

“Ikuti lomba apa pun karena bisa meningkatkan rasa percaya diri dan memberikan dampak positif bagi anak muda,” ujarnya.

Indira menambahkan, minat generasi muda terhadap bahasa Belanda saat ini menunjukkan peningkatan. Hal tersebut terlihat dari jumlah pendaftar di Fakultas Ilmu Budaya pada 2025 yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Pendaftarnya hampir mencapai seribu orang, sementara yang diterima sekitar 78 mahasiswa. Ini menunjukkan antusiasme yang luar biasa,” katanya.

Menurutnya, alasan mahasiswa mempelajari bahasa Belanda beragam, mulai dari faktor keluarga hingga ketertarikan pribadi terhadap sejarah hubungan Indonesia dan Belanda.

“Bahasa Belanda menjadi salah satu bahasa asing yang menarik untuk dipelajari, terutama bagi mereka yang ingin memahami kembali sejarah kedua negara,” tandasnya.

Selain itu, Indira juga mengapresiasi Penerbit Erlangga selaku penyelenggara The Voice Fest at Braga yang dinilai berhasil menghimpun peserta dari berbagai daerah di Pulau Jawa.

“Strateginya sangat luar biasa. Jarang ada acara seperti ini yang mampu menyatukan banyak komunitas dalam satu kegiatan. Ini benar-benar luar biasa,” pungkasnya.